Oleh | Ade Mulyana
Ada yang bilang narasi pola ala rakyat vs pola ala feodal adalah upaya mengadu domba internal PDI-Perjuangan.
Jawabannya tegas: TIDAK!!!
Justru narasi tersebut adalah bentuk kepedulian kepada PDI-Perjuangan agar dapat memenangkan Pemilu sekaligus meningkatkan jumlah suara di 2024. Ini cinta, bukan adu domba.
Faktanya, dua pola itu memang terjadi dalam sejarah kontestasi yang dilalui PDI-Perjuangan.
PERTAMA, POLA ALA FEODAL
Pola ala feodal adalah keputusan PDI-Perjuangan yang mencalonkan figur ningrat PDI-Perjuangan.
Di Pemilu 2004 dan 2009, PDI-Perjuangan mencalonkan ibu Megawati, Ketua Umum PDI-Perjuangan, tokoh wanita hebat, putri Bung Karno.
Beliau ningrat partai. Hasilnya, kalah. Bahkan suara PDI-Perjuangan, turun 21 juta-an (dari jumlah sebelumnya 35,6 juta di tahun 1999).
Sekali lagi agar ‘digaris bawahi tebal-tebal,’ fakta jelas melihatkan bahwa ketika ningrat PDI-Perjuangan dicalonkan, suara PDI-Perjuangan justru turun drastis! Turun 21 juta lebih! Perolehan suara dari posisi 1 di 1999, turun menjadi posisi 2 di 2004, kemudian merosot di posisi 3 di 2009.
Artinya, pola feodal terbukti gagal fatal. Ini data sejarah, bukan asumsi!
KEDUA, POLA ALA RAKYAT
Pola ala rakyat itu adalah keputusan PDI-Perjuangan mengusung figur kader PDI-Perjuangan dari kalangan orang biasa (bukan ningrat PDI-Perjuangan).
Di Pemilu 2014 dan 2019, PDI-Perjuangan mencalonkan Jokowi yang bukan ningrat. Beliau orang biasa, salah satu kader terbaik partai.
Hasilnya, menang dua kali! Suara PDI-Perjuangan naik pesat. 2014 naik 9 juta-an, dan 2019 naik 3 juta lebih. Total, naik 12 juta lebih!
Artinya, pola ala rakyat ini berefek pada peningkatan suara PDI-Perjuangan secara signifikan.
Nah, sekarang ada dua figur. Ada Mba Puan, ada Pak Ganjar.
Mba Puan Ningrat PDI-Perjuangan sedangkan Pak Ganjar bukan ningrat PDI-Perjuangan. Pola mana yang akan diambil PDI-Perjuangan?
Sesungguhnya, ini adalah cinta, bukan adu domba.
#dulurganjarpranowo
#lumbungrelawanrakyat
#salamperjuangan
#salampancasila
@Penulis, Wakil Ketua Umum DPP Dulur Ganjar Pranowo (DGP)