Peta ini menggambarkan potensi wilayah yang dapat dikembangkan sebagai suatu kawasan di tingkat provinsi dan peta skala 1:50.000 yang memberikan informasi lebih detail mengenai potensi peningkatan produktivitas dan perluasan areal kawasan di tingkat kabupaten. Hingga tahun 2018, banyak peta kawasan pertanian yang telah diselesaikan.
“Pertama, Atlas Peta Potensi Pengembangan Kawasan Padi, Jagung, Kedelai dan Ubi Kayu Skala 1:250.000 seluruh provinsi dan Skala 1:50.000 di 71 kabupaten sentra,” ungkapnya.
Kedua, lanjut Kasdi, Atlas Peta Potensi Pengembangan Kawasan Perkebunan Skala 1:250.000 seluruh provinsi dan Skala 1:50.000 di 16 kabupaten sentra. Ketiga, Atlas Peta Potensi Pengembangan Kawasan Sapi Potong Skala 1:250.000 seluruh provinsi dan Skala 1:50.000 di 28 kabupaten sentra. Keempat, Atlas Peta Potensi Pengembangan Kawasan Cabai dan Bawang Merah Skala 1:250.000 seluruh provinsi dan Skala 1:50.000 di 16 kabupaten sentra untuk komoditas cabai, bawang merah, dan bawang putih.
“Keseluruhan peta tersebut telah diunggah dan dapat diakses oleh berbagai pihak melalui website SIKP (Sistem Informasi Kawasan Pertanian,-red), dan bersifat dinamis sehingga dapat terus diperbarui dan di-overlay dengan berbagai peta tematik lainnya sesuai kebutuhan perencanaan,” tuturnya.
Kasdi menegaskan keberadaan peta-peta kawasan tersebut juga memberikan manfaat bagi masyarakat. Bahkan bermanfaat bagi pihak swasta yang ingin membangun bisnis komoditas strategis karena informasi yang diberikan sangat komprehensif terkait keberhasilan komoditas pertanian yang dibudidayakan.
“Yakni mencakup lokasi, karakteristik lahan, potensi peningkatan produktivitas dan perluasan areal, serta rekomendasi aplikasi teknologi budidaya, penanganan panen, pasca panen dan penataan kelembagaan petani,” pungkasnya. (rel/snc)
