Oleh: Eduardus B. Sihaloho, S.Ag
Bukan persoalan di kota atau di desa kebanyakan orangtua saat ini, yang memiliki anak usia 18 tahun ke bawah merasa cemas dan khawatir terhadap penggunaan handphone atau internet yang berlebihan oleh anak.
Kecemasan itu didasarkan pada situasi kemajuan zaman dalam hal teknologi informasi. Sebab rata-rata anak usia sekolah dari kelas 1 Sekolah Dasar hingga kelas 12 Sekolah Menengah Atas telah memiliki handphone Android, karena tuntutan sekolah saat ini, terutama saat menjalani pembelajaran sekolah dalam bentuk daring (dalam jaringan) internet.
Namun tidak semata karena tuntutan pembelajaran sekolah, anak usia sekolah 6-7 tahun hingga 11-12 tahun sudah sangat terbiasa untuk menggunakan Handphone khususnya Android. Apakah situasi ini merupakan anugerah yang wajib disyukuri? Tentunya harus disyukuri sebab banyak kemajuan dan kecepatan yang diperoleh setelah adanya teknologi informasi yang sedemikian canggih ini.
Perlu dicermati dengan sungguh dan bijak, sebab kemajuan teknologi informasi tersebut bagaikan pedang bermata dua, yang di satu sisi memberikan manfaat yang besar bagi penggunanya.
Yang dulunya satu pekerjaan bisa membutuhkan waktu yang cukup lama, namun sekarang situasinya sungguh jauh berbeda berkat internet.
Di sisi lain, kemajuan tersebut membawa dampak dan pengaruh yang negatif bagi para penggunanya. Sebab dari kemajuan dunia internet ini timbul permasalahan-permasalahan pelik bagi keluarga demikian juga kepada anak.
Peliknya persoalan itu tidak hanya mencemaskan secara pemikiran, namun dampak buruk bagi fisik juga sangat kentara.
Dari informasi yang beredar di tengah masyarakat bahwa beberapa kasus kelainan fisik dan mental anak setelah sedemikian intensnya dia bermain internet.
Dunia nyata seolah menjadi bayangan, sedangkan dunia maya bagi anak sudah menjadi dunia nyata. Inilah realitas dampak positif dan negatif dari kemajuan dan perkembangan internet saat ini bagaikan pedang bermata dua.
Menurut penelusuran Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) tahun 2018, pemakaian internet di Indonesia sangat cepat dibandingkan dengan Negara-negara lain.
Bersamaan dengan pemakaian internet tersebut, muatan-muatan negatif di internet seperti pornografi dan tindakan kekerasan sangat berkembang di media-media sosial maupun media daring.
Bahkan beberapa kasus di Indonesia dampak negatifnya sangat besar bagi anak-anak. Karena itu, peran yang utama dan pertama diharapkan dari orangtua untuk mampu memainkan perannya secara bijak, supaya anak-anak mereka tidak semakin dibenamkan oleh buruknya pengaruh internet terhadap anak-anak mereka.
Selain itu, menurut data Gerakan Literasi Digital Siberkreasi bahwa 65 persen anak-anak usia enam tahun hingga 19 tahun saat ini sudah memiliki handphone.
Maka kalau demikian situasinya, secara pasti anak-anak tersebut setiap hari menyerap demikian banyak informasi lewat internet baik informasi yang baik menambah pengetahuan maupun yang buruk dan negatif.
Untuk bisa menata penggunaan handphone atau internet bagi anak-anak, ada baiknya melihat terlebih dahulu baik-buruknya internet bagi anak khususnya dan bagi orangtua pada umumnya.
Sisi baiknya adalah mempermudah komunikasi antarkeluarga, memperbanyak pertemanan, menumbuhkan kreativitas dan banyak ide, belajar banyak hal-hal baru, dan menjadi sarana refreshing.
Hal-hal baik itu tentu membawa pengaruh yang baik bagi relasi dalam keluarga. Namun di pihak lain, ada banyak hal negatif yang dimunculkan oleh internet ini, yakni kebanyakan bermain internet menyebabkan sakit mata, menjadi kurang fokus saat belajar, mengalami keterlambatan dalam pertumbuhan fisik, muncul kecanduan berinternet, melihat banyak sajian pornografi, cenderung mengisolasi diri, bersifat individualis, tertutup terhadap relasi sosial, menjadi boros dan malas.
Dampak negatif ini menjadikan anak mengalami keanehan dibandingkan dengan anak-anak lain yang tidak candu terhadap internet.
Saat ini banyak orangtua merasa aman, ketika anak-anaknya berada di rumah, namun ternyata anak-anak tersebut memainkan gadget atau handphone di tangannya.
Hal itulah yang ditengarai oleh Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) pada tahun 2018 bahwa orangtua merasa nyaman karena anak-anak mereka kerasan berada di rumah. Kerasaannya anak-anak berada di rumah, bukan karena motivasi tidak ada keluar rumah, namun hal itu terjadi dikarenakan bermain gawai.
Dalam hal ini banyak orangtua tidak menyadari dampak negatif dari lamanya penggunaan gadget tersebut. Orangtua merasa bahwa anak-anak terbebas dari kenakalan reamja dan narkoba, ketika mereka tidak keluar dari rumah.
Namun kalau diteliti lebih cermat bahwa walaupun berada di dalam rumah, kecenderungan anak-anak makin terkungkung bahkan lebih dari kenakalan remaja dan narkoba.
Sebab anak-anak dengan bebasnya menjelajahi dunia baik dunia yang bermanfaat maupun dunia buram dan suram melalui jaringan internet yang mereka nikmati.
Bahkan parahnya lagi orangtua dengan sengaja memberikan handphone atau gadget kepada anak-anak supaya tidak rewel dan tidak keluar dari rumah.
Secara kasat mata sepertinya aman, namun apabila dilihat dampak lebih jauh, maka anak-anak tersebut lama-lama akan kecanduan terhadap gawai atau gadget.
Satu hal yang paling berbahaya dari handphone adalah radiasinya. Apakah itu radiasi? Radiasi handphone adalah pancaran energi melalui suatu ruang atau materi dalam bentuk panas, partikel ataupun gelombang elektromagnetik atau cahaya.
Pancaran energi itulah yang mengena pada tubuh ketika kita menggunakan handphone baik dalam waktu singkat atau lama. Radiasi tersebut dapat mengganggu kesehatan si pengguna.
Berikut ini bahaya radiasi handphone bagi tubuh, yang mesti diwaspadai: menghilangkan konsentrasi, tidur menjadi tidak berkualitas, menyebabkan sakit kepala atau migran, pemicu penyakit katarak, memicu kerusakan otak, mengganggu perkembangan janin, menurunkan tingkat kesuburan pada pria, memicu terkena kanker payudara, rentan depresi, dan penyebab kebakaran.
Bahaya yang terakhir ini terjadi apabila saat mencas handphone dalam waktu yang terlalu lama. Energi listrik yang diterima dari sumber listrik di rumah atau kantor menyebabkan handphone makin lama makin panas, akhirnya terjadilah kebakaran.
Maka untuk tidak semakin besarnya dampak buruk handphone atau gadget terhadap anak, orangtua perlu semakin intens memperhatikan anak-anak mereka terutama terhadap penggunaan gawai.
Untuk menata penggunaan handphone atau internet pada anak, ada beberapa langkah yang harus dilakukan menurut Stephen Balkam, pendiri dan CEO Family Online Safety Institute (FOSI): pertama, orangtua berbicara kepada anak tentang nilai-nilai hidup yang mesti dianut dan mengajak anak berdiskusi tentang hal itu.
Orangtua secara terbuka berbicara kepada anak kegunaan terpenting dari handphone, jangan sampai anak salah menggunakannya.
Kedua, orangtua harus senantiasa belajar tentang fitur-fitur yang disediakan oleh gadget. Artinya, pengetahuan orangtua tentang gawai tersebut tidak boleh kalah jauh dari anak.
Ketiga, orangtua harus membuat aturan dan sanksi yang berkaitan dengan penggunaan gawai tersebut. Orangtua dan anak harus menyepakati apa yang boleh dan tidak dilakukan saat berinternet.
Keempat, orangtua harus berteman atau mengikuti media sosial anak-anaknya, tapi jangan memata-matai, harus tetap menghargai ruang privasi anak-anak.
Kelima, orangtua harus menjadi model bagi anak-anak dalam hal penggunaan teknologi informasi ini, misalnya ketika makan orangtua tidak boleh menggunakan handphone atau saat berkendara.
Keenam, memberikan buku-buku bacaan yang menarik dan baik kepada anak untuk dibaca, yang bisa mengisi saat-saat kosong dimana mereka tidak menjalankan pembelajaran. Model ini sekarang yang sedang diterapkan penulis kepada anak-anaknya, mudah-mudahan berjalan sesuai dengan yang diharapkan.
@Penulis, alumnus Universitas Katolik Santo Thomas Sumatera Utara, Medan dan bekerja di Kantor Kementerian Agama Kota Tanjungbalai-Sumatera Utara.