Oleh: Eduardus B. Sihaloho, S.Ag
Perayaan di hari yang sama: Hari Raya Idul Fitri dan Kenaikan Isa Almasih;
Sangat jarang terjadi bahwa perayaan keagamaan Kristiani dan Muslim ditetapkan dalam satu hari, namun untuk tahun 2021 hal demikian terjadi yakni pada 13 Mei 2021, yakni Hari Raya Idul Fitri 1442 Hijriah dan Kenaikan Isa Almasih.
Kesamaan perayaan ini tentu bukanlah hanya kebetulan saja, namun bisa dimaknai dengan cara yang sangat positif.
Hari Raya Idulfitri adalah perayaan kemenangan setelah sebulan penuh menjalani bulan puasa Ramadhan bagi saudara-saudari kita yang beragama Islam. Kemampuan untuk menjalani masa puasa tersebut dengan baik dan lancar menjadi tanda kemenangan melawan kelemahan-kelemahan manusiawi dari berbagai tantangan dan godaan duniawi.
Sementara Hari Raya Kenaikan Isa Almasih memiliki makna Sang Putera Allah telah menyelesaikan tugas perutusan-Nya di dunia, sehingga Dia berhak untuk kembali kepada Bapa. Tentunya setelah Yesus Putera Bapa naik ke surga, Bapa mengutus penolong bagi manusia yakni Roh Kudus.
Kesamaan merayakan perayaan keagamaan pada hari yang sama membuka pintu yang lebih lebar untuk berdialog antarumat beragama yang lebih erat.
Sebab sebagai anak bangsa dan sesama manusia, kebutuhan berdialog dalam kehidupan menjadi keniscayaan.
Tuntutan berdialog dalam kehidupan menjadi kebutuhan mutlak, sebab tidak ada seorang manusiapun di dunia ini yang mampu memenuhi kebutuhan dan kepentingannya sendiri.
Dalam berbagai kesempatan dan aspek kehidupan perjumpaan dan bersinggungan antarsesama warga mesti terjadi dan tak bisa dihindari. Karena itu, untuk menyikapinya perlu selalu terbuka akan kehadiran dan keberadaan orang lain di sekitar kita.
Maka momen merayakan hari keagamaan yang sama ini mesti dipandang sebagai titik pijak untuk melangkah ke masa depan: untuk tetap saling menghargai dan menghormati sesama umat beragama yang berbeda keyakinan, agar kondusivitas dalam masyarakat senantiasa terjadi dengan baik.
Dokumen tentang Persaudaraan Manusia untuk Perdamaian Dunia dan Hidup Bersama
Lahirnya The Document on Human Fraternity for World Peace and Living Together (Dokumen tentang Persaudaraan Manusia untuk Perdamaian Dunia dan Hidup Bersama) berkaitan dengan kunjungan bersejarah Paus Fransiskus sebagai Pemimpin Tertinggi Gereja Katolik sedunia ke Uni Emirat Arab (UEA).
Kunjungan itu menjadi konferensi global yang dilaksanakan pada tanggal 4 Februari 2019 di Abu Dhabi, Unit Emirat Arab, yang dipandang oleh tokoh dan pengamat dunia sebagai tonggak sejarah dalam membangun dialog antaragama.
Hal ini dipandang perlu mengingat bahwa para Pemimpin Agama memiliki wibawa dan otoritas yang tinggi di antara jemaatnya masing-masing.
Tujuan dari lahirnya dokumen tersebut untuk mengajak para Pemimpin Agama yang lain untuk berbuat hal yang sama agar pertikaian dan perselisihan di antara masyarakat dan suku bangsa tidak terjadi.
Dokumen Abu Dhabi yang ditandatangani oleh Paus Fransiskus dan Imam Besar Al-Azhar, Ahmad Al-Tayyeb merupakan peta jalan berharga membangun perdamaian dan menciptakan hidup harmonis di antara umat beragama.
Kepedulian kedua pemimpin agama tersebut dinyatakan dalam Konferensi Global pada tanggal 4 Februari 2019 di Abu Dhabi antara Paus Fransiskus sebagai Pemimpin Dunia Gereja Katolik dengan Imam Besar Al-Azhar, Ahmad Al-Tayyeb, mewakili Pemimpin Agama Islam, menandatangani The Document on Human Fraternity for World Peace and Living Together (Dokumen tentang Persaudaraan Manusia untuk Perdamaian Dunia dan Hidup Bersama).
Tujuannya supaya para pihak yang punya kepentingan terhadap perdamaian dunia dan hidup bersama mengutamakan dan membangun kebersamaan untuk menjaga dan merawat perdamaian.
Paus Fransiskus dan Imam Besar Al-Azhar, Ahmad Al-Tayyeb memainkan peran mereka masing-masing untuk mengajak pemimpin agama dan dunia yang lain, agar bersedia dan membuka hati terhadap pentingnya menjaga perdamaian dunia dan hidup bersama. Sebab tanpa perdamaian dunia dan hidup bersama yang terjaga dengan baik mustahil kehidupan bermasyarakat dapat berjalan dengan baik.
Peran pemimpin agama dunia lewat Paus Fransiskus dan Imam Besar Al-Azhar, Ahmad Al-Tayyeb, yang berbicara dan berjuang atas nama orang-orang yang menderita karena perang dan penindasan.
Tentu mereka berdua berbicara atas nama sebagai ciptaan Tuhan dan dalam nama Tuhan yang telah menciptakan semua manusia setara dalam hak, kewajiban, dan martabat, yang memanggil mereka untuk hidup bersama sebagai saudara dan untuk memenuhi bumi dan menyebarkan nilai-nilai kebaikan, cinta, dan kedamaian.
Pandangan ini seharusnya menyadarkan dan menggerakkan orang untuk mengetahui seberapa besar efek dan dampak dari perbuatannya.
Artinya, bilamana seseorang membunuh orang tertentu berarti dia membunih seluruh umat manusia, sebab seorang individu itu merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari keseluruhan manusia yang ada di muka bumi ini.
Demikian juga bilamana seseorang mampu menyelamatkan orang lain berarti dia menyelamatkan seluruh umat manusia.
Paus Fransiskus dan Ahmad Al-Tayyeb menyuarakan suara yang nyaring dari mereka yang tidak bersuara atas penderitaan yang telah dan sedang menimpa mereka.
Dalam kondisi itulah pemimpin umat harus mengambil prakarsa dan berdiri di garda terdepan untuk membentengi jemaatnya dari berbagai tindakan ketidakadilan dari orang-orang di sekitar mereka.
Orang-orang yang tidak bersuara tersebut berada dalam posisi yang lemah dan tidak menguntungkan. Orang-orang lemah dan terpinggirkan dalam masyarakat itu menempati posisi yang lemah dalam struktur masyarakat, sehingga mereka tidak memiliki kekuatan dan daya untuk mempertahankan kehidupan mereka di tengah berbagai gejolak kepentingan hidup zaman ini.
Paus Fransiskus dan Imam Besar Ahmad Al-Tayyeb, yang sangat percaya kepada Tuhan berdasarkan tanggungjawab religius dan moral mereka, menyerukan kepada diri mereka sendiri, kepada para pemimpin dunia serta para pengatur kebijakan internasional dan ekonomi dunia, agar bekerja keras untuk menyebarkan budaya toleransi dan hidup bersama dalam damai; agar mengadakan intervensi untuk menghentikan pertumpahan darah orang-orang yang tidak bersalah dan mengakhiri perang, konflik, kerusakan lingkungan hidup, serta kemerosotan moral dan budaya.
Seruan kedua tokoh ini hendaknya mewakili seruan pemimpin agama manapun di seantero dunia ini. Hal tersebut didasarkan pada tanggungjawab religius dan moral mereka, yang melekat pada tugas dan panggilan hidup mereka sebagai pemimpin umat.
Kedua tokoh tersebut menyerukan kepada para intelektual, filsuf, tokoh agama, seniman, pakar media dan semua laki-laki dan perempuan di setiap belahan dunia, untuk menemukan kembali nilai-nilai perdamaian, keadilan, kebaikan, keindahan, persaudaraan manusia, dan hidup berdampingan untuk menegaskan pentingnya nilai-nilai sebagai jangkar keselamatan bagi semua dan memajukannya dimana pun dan kapan pun.
Seruan kepada para tokoh bangsa dan para pemikir masyarakat untuk menegaskan bahwa tanggungjawab dan tugas dalam melestarikan budaya perdamaian di dunia bukan hanya tugas dan tanggungjawab para tokoh agama, tetapi tugas dan tanggung jawab seluruh umat manusia yang hidup di alam semesta.
Sebab kalau hanya para tokoh agama yang bekerja untuk menjaga dan membangun perdamaian dunia, tenaga dan kemampuan mereka sangat terbatas. Karena keterbatasan itulah, maka mereka menyerukan dan mengajak siapa saja yang berkehendak baik untuk dengan sukarela menjaga dan melestarikan perdamaian dunia.
Deklarasi Abu Dhabi lahir dari pertimbangan mendalam atas realitas dunia saat ini, yang menggejala bahwa agama ditarik ke dalam urusan politik.
Akhirnya peradaban dunia ditentukan dalam proses politik di setiap pemerintahan. Karena itu, perlu semua menyadari bahwa pemilah-milahan bidang kehidupan masyarakat sangat diperlukan.
Hal itu bertujuan, supaya tidak bercampur aduknya berbagai kepentingan dalam urusan bernegara dan bermasyarakat.
Deklarasi Abu Dhabi sangat menghargai keberhasilan pembangunan dunia saat ini serta solider dengan berbagai penderitaan, bencana, dan malapetaka yang melanda dunia. Pemimpin kedua agama tersebut memiliki keyakinan yang kuat bahwa penyebab paling utama dari krisis dunia modern adalah hati nurani manusia yang kehilangan kepekaan terhadap situasi yang terjadi.
Paus Fransiskus dan Imam Besar Ahmad Al-Tayyeb menegaskan pentingnya kesadaran beragama yang lebih murni dan menghidupkan kembali kesadaran di hati generasi muda lewat pendidikan yang baik dan kepatuhan kepada nilai-nilai moral dan ajaran agama yang benar.
Cara demikian dapat menghalangi kecenderungan yang individualistis, egois, saling menantang, dan mengatasi radikalisme dan ekstremisme buta dalam bentuk apapun.
Tujuan pertama dan terpenting agama adalah percaya kepada Tuhan, menghormati-Nya dan mengundang semua orang untuk percaya bahwa alam semesta bergantung sepenuhnya kepada Penciptanya.
Alam semesta ini menjadi hadiah dan karunia yang luar biasa bagi kehidupan manusia, yang Tuhan sendiri berhak untuk mengambil dan mengaturnya.
Tugas manusia yang bernaung di dalamnya adalah menjaga dan merawatnya, agar kelak dapat diwariskan kepada anak cucu kita.
Ketika upaya membangun perdamaian dunia diwujudkan tentu perlu kebebasan. Kebebasan adalah hak setiap orang, yakni setiap individu menikmati kebebasan berkeyakinan (beragama), berpikir, berekspresi, dan bertindak.
Pluralisme dan keberagaman agama, warna kulit (ras), jenis kelamin (gender), suku bangsa, dan bahasa sangat dikehendaki oleh Tuhan dalam hikmat-Nya saat menciptakan manusia.
Dari sumber hikmat ilahi inilah hak kebebasan berkeyakinan dan kebebasan untuk berbeda berasal. Tanpa memiliki kebebasan setiap orang tidak bisa melakukan keyakinan imannya.
Kebebasan itu mendorongnya berbuat secara mandiri dan bertanggung jawab untuk melakukan yang terbaik sesuai dengan perintah dan serius ajaran imannya.
Sebagai tanggungjawab untuk memelihara perdamaian dunia dan persaudaraan antarmanusia, dialog, pengertian, penyebaran budaya toleransi, penerimaan terhadap orang lain, dan hidup bersama secara damai yang diajarkan, digaungkan, dan diterapkan oleh para pemimpin agama, memberikan sumbangan penting untuk mengurangi masalah ekonomi, sosial, politik, dan lingkungan hidup yang menjadi beban berat sebagian besar umat manusia.
Sebab dialog, pengertian, penyebaran budaya toleransi, dan penerimaan terhadap orang menjadi pintu masuk ke dalam tujuan yang besar yakni terciptanya perdamaian dunia dan persaudaraan antarmanusia.
Dunia akan mengalami kehancuran ketika tidak ada dialog dan pengertian sesama manusia. Kedua hal ini membuka hati dan menciptakan relasi yang saling mengerti dan menghormati satu sama lain.
Bahaya yang mengancam masyarakat dunia belakangan ini adalah terorisme. Terorisme mengancam keamanan manusia dan menciptakan penderitaan dan kesedihan bagi warga dunia.
Terorisme terjadi di dunia Barat dan Timur, Utara dan Selatan, yang menyebarkan ketakutan, kesengsaraan, trauma, malapetaka, penderitaan, dan pesimisme.
Tujuan penebar teror adalah menciptakan ketakutan dan chaos di tengah dunia dan masyarakat, supaya di antara warga masyarakat terjadi kecurigaan satu sama lain.
Dengan demikian muncullah pertikaian dan peperangan, yang mengakibatkan permusuhan di tengah masyarakat. Karena itu, masyarakat harus menjaga agar saling menghormati dan menghargai satu sama lain.
Kesimpulan Deklarasi Abu Dhabi
Kesimpulan dari Deklarasi Abu Dhabi adalah sebagai berikut: Pertama, Deklarasi Abu Dhabi menjadi undangan untuk mengadakan rekonsiliasi dan persaudaraan di antara semua umat manusia di dunia, termasuk orang-orang yang percaya (memiliki keyakinan iman) dan orang-orang yang tidak percaya, tetapi dilandasi oleh kehendak baik.
Kedua, Deklarasi Abu Dhabi menjadi seruan bagi setiap hati nurani yang tulus untuk menolak kekerasan dan ekstremisme buta. Juga menjadi seruan bagi orang-orang yang menghargai nilai-nilai toleransi dan persaudaraan, yang didorong oleh ajaran agama-agama yang terdapat di dunia. Tetapi apabila menjadi seruan menunjukkan suara yang keras dengan tujuan supaya diperhatikan dan dijalankan dengan baik.
Ketiga, Deklarasi Abu Dhabi menjadi kesaksian akan kebesaran iman kepada Tuhan yang mempersatukan hati yang patah dan berantakan serta mengangkat jiwa manusia.
Kesaksian akan kebesaran iman kepada Tuhan menunjukkan bahwa orang-orang yang bersaksi itu sungguh-sungguh percaya kepada Tuhan dan yakin dengan penyelenggaraan ilahi-Nya (imago Dei) terjadi di tengah kehidupan mereka.
Keempat, Deklarasi Abu Dhabi menjadi tanda kedekatan antara Timur dan Barat, antara Utara dan Selatan, dan antara semua orang yang percaya bahwa Tuhan telah menciptakan kita untuk saling mengerti, bekerja sama, dan hidup sebagai saudara dan saudari yang saling mencintai.
Terjadinya polarisasi antara Timur dan Barat, Utara dan Selatan, selain karena letak geografis yang telah diciptakan demikian oleh Pencipta, namun aspek lain yang mempengaruhi dan menciptakan dikotomi itu adalah persoalan ideologi dari Negara-negara yang berada di dalamnya.
@Penulis, alumnus Universitas Katolik Santo Thomas, Medan dan bekerja di Kantor Kementerian Agama Kota Tanjungbalai, Sumatera Utara.