PELAKSAAN Pilpres 2019 menjadi persoalan serius di masyarakat, tak hanya di tingkat elite, masyarakat pun juga terjadi perdebatan yang sengit hanya karena perbedaan pilihan politik. Bahkan, tidak jarang bentrok antar kelompok yang berbeda pilihan. Namun, kondisi ini tidak boleh dibiarkan berkepanjangan.
Pilpres 2019 hanyalah sebagian kecil dari gelombang kehidupan bangsa Indonesia. Ia bukanlah segalanya. Ingat, kita adalah bangsa yang besar. Kebesaran itu terbukti dari persatuan kita sebagai sebuah bangsa yang memiliki nasib yang sama.
Jadi, meskipun berbeda pilihan politik, tetaplah ingat bahwa kita bersaudara. Jangan biarkan bangsa asing menertawai kegaduhan kita, yang tak jarang mereka mengambil peran dibelakangnya.
Kita akui, Jokowi-Amin dan Prabowo-Sandi adalah empat sosok anak bangsa yang saat ini sama-sama berjuang memberikan kemampuan terbaiknya untuk menghantar bangsa ini ke arah cita-cita Indonesia. Dan tentunya, mereka adalah kita, Indonesia.
Anda menjagokan Jokowi-Amin silahkan. Anda menjagokan Prabowo-Sandi, sah-sah saja. Masing-masing kita punya alasan, masing-masing kita punya dalil untuk bisa diperdebatkan tanpa ada akhirnya.
Tapi kita mesti ingat, sehebat atau sejelek apapun mereka, ternyata mereka adalah bagian dari nafas dan perut bangsa ini.
Masa depan bangsa ini masih panjang. Indonesia bukanlah suatu bangsa yang berpaku pada satu masa, tetapi ia adalah rumah bagi leluhur, bagi kita, bagi generasi kita dan bagi setiap orang yang menginginkan terwujudnya kehidupan yang damai, adil, makmur dan sentosa.
Akhir-akhir ini saya kurang sepakat (meskipun ada benarnya) dengan ucapan Soekarno yang menyampaikan bahwa musuh kita adalah bangsa kita sendiri. Kalimat ini seakan mengarahkan bangsa kita untuk ‘mengamini’ atau ‘menghalalkan’ memusuhi saudaranya sendiri, saudara dalam kebangsaan Indonesia.
Sederhananya, pilpres bukanlah segalanya. Mari bersama-sama tetap jaga persaudaraan, jaga kerukunan, persatuan, dan sikap optimisme dalam membangun bangsa ini. PR kita masih panjang. (*)
penulis adalah salah satu Inisiator Lembaga Pendidikan Rakyat (LEPINDRA), mantan Ketua Presidium PMKRI Siantar-Simalungun, inisiator Komunitas Mata Demokrasi (KOMADEM) dan Sekjend Institute Law and Justice.