SimadaNews.com-Tekanan terhadap mata uang rupiah belum menunjukkan tanda mereda. Pada pembukaan perdagangan Selasa (9/6/2026), nilai tukar rupiah kembali bergerak turun dan dibuka di level Rp18.165 per dolar Amerika Serikat (AS), melanjutkan tren pelemahan yang dalam beberapa hari terakhir menjadi sorotan pelaku pasar.
Pergerakan tersebut memperlihatkan bahwa mata uang Garuda masih berada di bawah tekanan kuat akibat kombinasi sentimen global dan meningkatnya permintaan dolar AS di pasar keuangan. Posisi rupiah saat ini juga menjadi salah satu level terlemah dalam sejarah perdagangan valuta asing Indonesia.
Sejumlah analis menilai penguatan dolar AS masih menjadi faktor dominan yang membebani mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia. Ketidakpastian geopolitik global serta meningkatnya kecenderungan investor mencari aset aman (safe haven) membuat arus dana lebih banyak mengalir ke instrumen berbasis dolar.
Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi menjelaskan bahwa tekanan terhadap rupiah tidak bisa dilepaskan dari situasi global yang kembali memanas, khususnya di kawasan Timur Tengah.
“Eskalasi konflik yang meningkat kembali memicu kekhawatiran pelaku pasar dan mendorong penguatan dolar AS,” ujarnya.
Kondisi tersebut membuat mata uang negara berkembang menghadapi tekanan yang relatif besar, terutama ketika investor memilih mengalihkan dana ke aset yang dinilai lebih aman.
Di sisi lain, Bank Indonesia terus melakukan berbagai langkah stabilisasi guna menjaga pergerakan rupiah agar tidak berfluktuasi secara berlebihan. Sebelumnya, bank sentral bahkan menaikkan suku bunga acuannya sebagai bagian dari strategi mempertahankan stabilitas nilai tukar di tengah gejolak pasar global.
Meski demikian, pelaku pasar masih mencermati sejumlah faktor yang berpotensi memengaruhi arah rupiah dalam jangka pendek, mulai dari perkembangan konflik geopolitik, pergerakan harga energi dunia, hingga arus modal asing yang keluar masuk pasar domestik.
Dengan dolar AS yang masih bertahan di level tinggi, pasar keuangan nasional diperkirakan akan tetap menghadapi periode penuh kewaspadaan. Fokus investor kini tertuju pada langkah lanjutan Bank Indonesia serta perkembangan ekonomi global yang akan menentukan arah pergerakan rupiah dalam beberapa pekan ke depan. (SNC)


