Oleh | Putri Florensyah Budu
Siapa saja, boleh jadi, sudah mengenal apa yang disebut Strict Parents yakni, orang tua yang terlalu mengekang anaknya.
Strict Parents, jarang kita dengar, namun tindakan dari kata itu sudah sering kita lihat secara langsung.
Strict Parents, tipe orangtua yang mengatur anaknya sesuai dengan kemauan diri sendiri tanpa menghargai perasaan serta pendapat anaknya. Orangtua yang terlalu mengekang sehingga si anak tidak dapat melakukan apa yang diinginkannya.
Saya merasa bersyukur terlahir di tengah-tengah keluarga, yang selalu mendukung setiap kegiatan atau pun keputusan yang saya ambil. Tapi tindakan pengekangan ini, sering saya lihat dialami teman-teman saya.
Seorang teman, Dini Rajagukguk berpendapat “Strict parents itu nggak bagus, karena semakin dilarang, semakin banyak peluang si anak melakukan hal-hal negatif, karna dia merasa nggak bebas. Jadi melakukan hal yang nggak baik itu jalan keluarnya. Namun semua itu kan, kembali ke pemikiran setiap anak bagaimana.”
Dari pendapat teman saya itu dapat saya tarik kesimpulan bahwa Strict Parents ini sangat dapat merusak perkembangan mental dari anak, mempersulitnya dalam hal bergaul, serta merasa dikekang.
Biasanya, anak-anak yang mempunyai orang tua seperti itu akan memiliki pemikiran lebih baik berbohong dari pada jujur dan lebih baik dimarahi dari pada tidak pergi.
Jika melihat persenannya, mungkin hanya sedikit anak yang mengalami strict parenst ini berpikir jernih dan positif.
CARA PENYAMPAIAN KASIH SAYANG
Sangat disayangkan memang ketika orangtua terlalu memaksakan kehendaknya kepada si anak,dalam artian orangtua selalu memikirkan hal yang terbaik untuk anaknya tapi cara penyampaian rasa sayang mereka terkadang salah sasaran.
Saat ini saya duduk di bangku perkuliahan semester dua, sedikit banyaknya saya sudah menemui teman-teman baru dengan segala permasalahannya. Tidak sedikit teman yang saya tanyai mengenai dia memilih jurusan di perkuliahan itu karna “paksaan dari orangtua.”
Benar memang pilihan orangtua adalah pilihan terbaik, tapi bisa juga keputusan orangtua ini berbanding terbalik dengan kemauan si anak.
Artinya, ketika keinginan orangtua yang harus dipenuhi, maka mereka saat menekuni suatu pekerjaan bukan karna niatan ataupun memang kemauan dari dalam diri sendiri.
Sehingga ketika saya tanya kembali bagaimana kamu bisa menekuni jurusan itu, sementara kamu tidak menyukainya? Jawabannya “Jalani aja dulu kira-kira nggak sanggup ya mundur”. Sebuah jawaban kepasrahan atas pilihan dari orangtuanya.
Kembali ke topik Strict Parents tadi. Lantas, bagaimana cara anak untuk bisa lepas dari aturan-aturan orangtua yang terlalu mengekang?
Apakah memang harus setiap kemauan orangtua tersebut kita turuti meski kita tidak punya niatan di bidang itu?
Tidak sepenuhnya tidak mematuhi keinginan orangtua menandakan bahwa kita adalah anak yang nakal, atau kita adalah anak yang susah dididik. Terkadang ada hal baik menurut orangtua kita, tapi tidak baik untuk diri kita sendiri.
Jadi, apa yang seharusnya dilakukan anak yang mengalami Strict Parents tadi? Melawankah? Membangkang? Atau malah beradu argument dengan orangtuanya?
Menurut pendapat saya, hal yang harus dilakukan anak yang mengalami Strict Parents yaitu: pertama, si anak harus mampu menunjukkan bahwa keputusan yang diambilnya merupakan keputusan terbaik dan tidak salah. Kedua; coba lakukan hal-hal positif yang dapat membuat orangtuamu dapat percaya atas segala kegiatan yang kamu lakukan di luar rumah.
Ketiga; tepat waktulah dan jangan pernah berbohong terhadap orangtua ketika ingin keluar rumah, apalagi kamu membawa alasan bersosialisasi. Keempat; coba ajak orangtuamu bercerita dan sampaikan segala keluhanmu dengan cara yang sopan kepada orangtua agar mereka dapat memahaminya.
Kelima; jangan pernah hilangkan kepercayaan yang sudah diberi ketika kamu sudah diberi kebebasan oleh mereka.
Hal-hal seperti yang di atas tadi mungkin dapat dilakukan oleh mereka yang memiliki orangtua yang sifatnya mengekang (Strict Parents) dan tidak memberikan kebebasan kepada anaknya.
Kembali lagi dari penuturan saya tadi, saya ingin mempertegas bahwa tidak ada orangtua yang menginginkan anaknya terjerumus ke dunia gelap. Semua orang tua menginginkan yang terbaik untuk anak-anaknya, termasuk mengenai pergaulan dan lainnya.
Pesan penting untuk anak-anak yang mengalami Strict Parents, “Jangan pernah berkecil hati karna tidak bisa merasakan kebebasan dan kemerdekaan di dalam setiap keputusan yang berbeda dengan keputusan orangtua. Tetap yakin dan berusaha semaksimal mungkin untuk menyakinkan orangtua bahwa sebagai anak bisa menjadi seperti apa yang diharapkan, dan kamu berhak memiliki kebebasan yang terarah”.
Dan terhadap orangtua yang melakukan pembatasan serta tidak memberikan kebebasan kepada anaknya hanya karna takut mereka nantinya salah jalan, berikan kepada anak-anak kalian kesempatan untuk mampu memilih segala yang terbaik menurut mereka.
Orangtua bebas memberikan masukan kepada anak, tapi bukan berarti mengekang mereka. Orangtua seharusnya mendukung segala hal baik yang dilakukan anak dan memberi peringatan kepada anak jika mereka menyeleweng.
Orangtua yang bijak, selalu mendukung segala kegiatan dari anak-anaknya dan mampu mengarahkannya dengan cara terbaik. Orangtua yang bijak, mampu merangkul dan menjadi tempat bercerita sekaligus menjadi sahabat bagi anaknya.
@Penulis, mahasiswa Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas HKBP Nommensen Kota Pematangsiantar dan aktiv di Kelompok Studi Pendidikan Merdeka (KSPM)