SimadaNews.com-Sebanyak 96 persen bawang putih masih impor dengan volume 580 ribu ton atau setara dengan Rp7 triliun, sedangkan Indonesia punya lahan yang luas dan sejarah swasembada.
Hal itu disampaikan Anggota Komisi IV DPR-RI Viva Yoga Mauladi, ketika bertemu dengan masyarakat Desa Sembalun Bumbung Kecamatan Sembalun, Lombok Timur, pada acara panen bawang putih, akhir pekan lalu.
Pad kesempatan itu, Viva Yoga Mauladi mendukung upaya yang ditempuh Kementerian Pertanian (Kementan) untuk menuju swasembada bawang putih Tahun 2021.
Pria kelahiran Lamongan ini kembali menegaskan dukungan Komisi 4 DPR RI terhadap percepatan percapaian program swasembada agar tidak ada lagi ketergantungan impor dan penguasaan pasokan serta harga oleh oknum tertentu.
“Kalau perlu, wajib tanam importir yang sekarang hanya 5 persen dinaikkan jadi 10 persen dengan syarat benih berkualitas harus tersedia. Jangan para importir wajib tanam dan produksi complain karena tidak ada benih bagus. Ini yang masih jadi masalah pemerintah. BUMN juga harus berpartisipasi agar swasembada lekas terwujud,” tegas Viva.
Menanggapi maraknya importir nakal yang mangkir dari wajib tanam padahal RIPH dan atau SPI sudah didapat, Viva setuju harus ada sanksi bagi importir yang wanprestasi.
“Baik itu sanksi administratif maupun sanksi hukum berdasarkan peraturan perundang-undangan” lanjutnya.
Direktur Perbenihan Hortikultura, Sukarman menyampaikan bahwa Ditjen Hortikultura telah membuat mapping ketersediaan benih.
“Kami punya data panen, kapan, dimana, berapa ton, kapan siap tanam, data penangkarnya. Ada semua, Sembalun sendiri ada sekitar 7 ribu ton calon benih dalam proses sertifikasi oleh BPSB (Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih),” katanya.
Belajar dari kegagalan produksi di beberapa daerah karena kualitas benih rendah, Sukarman, mengingatkan agar dilakukan pengecekan sebelum benih didistribusikan ke petani.
“Kalau benih jelek, jangan diterima. Kembalikan saja ke penyedia. Dinas juga perlu melibatkan PBT (Pengawas Benih Tanaman-red) untuk periksa patah dormansinya” terang Karman.
Plt Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Lombok Timur, H. Abadi, menyebutkan di sembalun sendiri masih ada potensi lahan tadah hujan seluas 5 ribu hektar yang masuk kawasan TNGR (Taman Nasional Gunung Rinjani). Namun lahan tersebut terkendala air dan tidak bisa ditanam saat musim kering.
“Di Sembalun, puncak tanam bawang putih yaitu bulan Mei-Juli di lahan sawah. Air nya penuh, produksinya maksimal. Produktivitas rata-rata disini mencapai 12 ton per hektar” katanya.
Dia menambahkan, dengan adanya pertanaman swadaya dan APBN tahun ini yang mencapai 1.726 hektar, diperkirakan mampu menghasilkan benih sebanyak 20 ribu ton.
“Ini cukup untuk tanam kembali di Sembalun, bahkan bisa membantu kebutuhan benih di wilayah lain” terang Abadi.
Anggota Komisi IV DPR-RI Hassanudin turut menyoroti penggunaan pupuk kimia yang kadang berlebihan.
“Disinilah peran BUMN seperti Pupuk Kaltim, dan Petrokimia untuk mengedukasi petani untuk menggunakan pupuk organik selain penggunaan benih unggul. Jika itu semua terpenuhi, tentu bakal dongkrak produksi,” rinci Hassanudin.
“Pemerintah wajib melindungi dan memberdayakan petani bawang putih agar makin sejahtera,” tambahnya.
Menanggapi keluhan petani penangkar sembalun masalah okupasi benih, Komisi 4 DPR RI meminta peran dari BUMN seperti Pertani, SHS bahkan BULOG untuk dapat membantu petani menyerap produksinya.
“Nggak usahlah mikirin impor, serap saja bawangnya petani” ujar Hassanudin. (snc)
Sumber: Humas Kementan
Editor: Hermanto Sipayung

