• https://purepurepiano.main.jp/
  • https://aceh.lan.go.id/
  • https://academy.colorescience.com/
  • https://soundrivers.org/a-sound-river/
  • https://anais.anpur.org.br/
  • https://tutorias.tepexirguez.tecnm.mx/
  • https://bat4man.netopiere.sk/

slot gacor

Simada News
No Result
View All Result
  • News
    • Ekbis
    • Kesehatan
    • Peristiwa
  • Pesona
  • Sudut Pandang
  • Tokoh
  • Konsultasi Hukum
  • News
    • Ekbis
    • Kesehatan
    • Peristiwa
  • Pesona
  • Sudut Pandang
  • Tokoh
  • Konsultasi Hukum
No Result
View All Result
Simada News
  • SMSI
  • News
  • Peristiwa
  • Ekbis
  • Kesehatan
  • Pesona
  • Sudut Pandang
  • Tokoh
HomeSudut Pandang

SEBAGAI MANUSIA BERIMAN, SAYA MINTA MAAF

Simadanews.comPenulis: Simadanews.com
27 November 2021 | 08:14 WIB
Rubrik: Sudut Pandang
Konsep Otomatis
ADVERTISEMENT

Oleh | Pdt. Erwin Ar. Saragih, M.Th

 

Sebagai manusia beriman, saya minta maaf, kepada keluarga besar Pemuda Pancasila, demikianlah ucapan Junimart Girsang kepada wartawan di kompleks DPR/MPR, Senayan, Jakarta Pusat, Rabu 24/11/2021 (detiknews).

Semua agama dan kepercayaan di Bumi Pertiwi tentunya mengajarkan umatnya untuk saling memaafkan. Di dalam tindak memaafkan, ada niat untuk berdamai dengan kehidupan, baik kehidupan orang lain ataupun kehidupan diri sendiri. Namun apa sebenarnya arti tindak memaafkan ini? Mengapa kita perlu melakukannya? Sederhananya, karena masyarakat Indonesia ialah orang beriman.

Tindak memaafkan adalah tindakan paradoksal (Lazare). Di dalam ucapan maaf selalu terkait dua hal, yakni keinginan untuk mengingat sekaligus untuk melupakan. Mengingat berarti untuk menerima kejadian yang negatif, yang harus dimaafkan, sebagai bagian dari peristiwa hidup, dan juga sebagai bagian dari relasi antar manusia. Untuk melupakan berarti berkomitmen untuk tidak lagi mengungkap peristiwa negatif tersebut di kemudian hari sebagai alat untuk menyakiti.

Di sisi lain, memaafkan juga selalu mengandung aspek universal dan partikular. Di dalam semua peradaban, tradisi memaafkan dapat dengan mudah ditemukan. Fenomena memaafkan adalah fenomena yang universal. Namun tindak memaafkan juga bersifat partikular, karena pribadi-pribadi yang melakukannya adalah pribadi yang unik, termasuk Junimart dengan segala keterbatasan. Yang harus berbagi pikiran untuk Indonesia hingga Simalungun. Yang masih berjuang untuk memberantas mafia tanah, ditambah membangun Simalungun melalui Haroan Bolon (gotong royong), untuk Simalungun bisa berada di zona hijau selama masa pandemi, dengan vaksin massal, bantuan beras, hingga aksi disinfektan sampai saat ini. Baik Junimart dan Pemuda Pancasila adalah person-person. Maka, semua tindakan memaafkan selalu muncul dari pengalaman personal, dan berawal dari ucapan orang personal pula.

Level tertinggi dari memaafkan adalah memaafkan apa yang sebenarnya tidak termaafkan. Jika anda memaafkan hal-hal yang sepele, yang sebenarnya tidak merugikan anda, maka sebenarnya anda belum memaafkan, karena anda masih melakukan hitung-hitungan untung rugi dengan orang yang anda maafkan. Namun jika anda sungguh dirugikan, baik secara mental maupun fisik, dan anda mampu memaafkan, maka anda sudah mencapai tingkat tertinggi dari memaafkan itu sendiri.

Inilah dimensi paradoksal terdalam dari tindak memaafkan sebagai orang beriman, yakni bahwa ia sungguh menjadi nyata, ketika orang berani berkata sebagai orang beriman, saya minta maaf, dan tentunya sebagai orang beriman, kita juga harus berani untuk memaafkan apa yang sebenarnya tidak termaafkan.

Dalam lingkup sosial, saya mengutip Ricoeur, tindakan memaafkan membutuhkan keberanian untuk melupakan. Dalam arti ini melupakan bukan sekedar untuk melupakan begitu saja, melainkan melupakan untuk menerima, dan menerima untuk mengingat.

Karena, semua kepedihan Indonesia ini, yang muncul dari begitu banyak perang, krisis, dan konflik antar kelompok, antar relasi, hanya dapat dilampaui dengan dilupakan. Supaya dapat menerima orang perlu untuk melupakan, karena hanya di dalam kemampuan untuk melupakanlah orang dapat mengingat secara tepat, mengingat bahwa kita adalah Orang Beriman.

 

Penulis Pendeta Resort Haranggaol, Distrik III

Peristiwa

Miliki Ganja, Sabu dan Ekstasi, Dua Pria Warga Simalungun Ditangkap di Siantar

24 Juli 2026 | 11:08 WIB
Peristiwa

Vanessa Pemain Film “Horas Amang” Jadi Korban KDRT, Tolak Berdamai dengan Suaminya

24 Juli 2026 | 10:18 WIB
Kesehatan

Wamenkes RI Letakkan Batu Pertama Pembangunan Cathlab RSUD Hadrianus Sinaga

23 Juli 2026 | 21:07 WIB
Peristiwa

DPRD, Asosiasi, dan Pengusaha Bertemu di Haranggaol: KJA Butuh Kepastian Hukum

23 Juli 2026 | 19:39 WIB
Peristiwa

Pengurus TP-PKK Simalungun Ikuti Bimtek PKK Provinsi Sumut

23 Juli 2026 | 10:50 WIB
Sudut Pandang

Komisi X DPR-RI Kunker ke Tebing Tinggi, Iman Irdian Saragih Dorong Sinergi untuk SDM Unggul

23 Juli 2026 | 07:28 WIB
Peristiwa

Jelang Sumut Rally 2026, Pemko dan Polres Siantar Siapkan Rekayasa Lalu Lintas serta Sterilisasi Jalur

22 Juli 2026 | 22:47 WIB
Ekbis

Petani Samosir Terima Bantuan 5 Ton Bibit Kentang

22 Juli 2026 | 21:31 WIB
Kesehatan

Wamenkes RI Kunjungi Simalungun Tinjau Pelaksanaan Skrining TB dan Beri Bantuan X Ray Portabel

22 Juli 2026 | 19:52 WIB
Peristiwa

Kunker ke Haranggaol, Samrin Girsang Minta Galakkan Gerakan Pelestarian Lingkungan

22 Juli 2026 | 18:38 WIB
  • Pedoman
  • Policy
  • Redaksi
  • Simada News

© 2018-2026 Simada News

rotasibarakberita hari inidanau tobapenipu kripto

No Result
View All Result
  • News
    • Ekbis
    • Kesehatan
    • Peristiwa
  • Pesona
  • Sudut Pandang
  • Tokoh
  • Konsultasi Hukum

© 2018-2026 Simada News

rotasibarakberita hari inidanau tobapenipu kripto

slot gacor

slot gacor