SimadaNews.com-Kota Siantar, merupakan kota menarik dan bisa menjadi kota pilihan tempat tinggal mumpuni. Sebab, letak geografis Siantar strategis menjadi pintu gerbang ke berbagai daerah di Kawasan Danau Toba.
“Cuaca Siantar tidak dingin, tidak terlalu panas. Jadi nikmat tinggal di Siantar,” kata Dosen Sekolah Tinggi Ekonomi (STIE) Sultan Agung Siantar, Robert Tua Siregar, saat diberi kesempatan pertama oleh Rindu Marpaung yang bertindak sebagai moderator di acara “Ngobrol Santai Soal Siantar” di Grand Falm Hotel Siantar, Sabtu (9/2).
Menurut Robert Tua, Siantar memiliki potensi di berbagai bidang, mulai dari potensi pendidikan, kuliner, perdagangan dan jasa dan berbagai potensi lainnya.
Yang menjadi persoalan, lanjut Robert, adalah persoalan menjalankan program yang sudah disusun untuk menggali dan mengimplementasikan potensi yang sudah ada di lingkungan stekholder yang ada.
Robert mencontohkan, soal pengembangan pinggiran Kota Siantar belum signifikan dilakukan. Padahal ada potensi lahan yang bisa dijadikan sebagai perluasan pembangunan.
“Masih ada pekerjaan cukup berat yang harus diselesaikan soal 573 hektar eks HGU PTPN III Tanjung Pinggir. Pemki Siantar belum bisa membuat lahan itun menjadi hak milik Pemko Siantar 100 persen,” kata pria yang diketahui pernah menjadi salah satu tim perumus Rencana Program Jangan Menangah (RPJM) Kota Siantar.
Anggota DPRD Siantar, Kennedy Parapat, menimpali, bahwa belum ada perubahan maksimal di Kota Siantar, meskipun setiap tahun pemerintah memberikan penjabaran capaian kinerja.
Perubahan yang tidak maksimal, itu dikarenakan penghunjukan pimpinan OPD, tidak berbasis kompetensi sehingga tidak bisa memberikan kinerja mumpuni menggali potensi di Kota Siantar.
Kennedy membandingkan Kota Siantar dengan Kota Solo. Dia menyebutkan, Kota Solo bisa menggali potensi yang ada di kalangan masyarakat, sehingga bisa menghasil PAD dari orang yang datang berkunjung ke Kota Solo.
“Coba kalau Siantar bisa seperti Kota Solo. Padahal, Kota Solo itu lebih kecil dari Kota Siantar. Tapi karena potensinya dikembangkan, Solo menjadi Kota yang disinggahi orang dan menghidupkan perekonomian masyarakat,” pungkas Kennedy.
Pernyataan Kennedy dibenarkan pegiat Budaya, Sultan Saragih. Dia menyebutkan, Pemko Siantar menggali dan seakan tidak terkoneksi dengan para pegiat yang sudah berkreasi membawa nama Siantar.
“Kita punya teman-teman yang sudah membawa nama Siantar kemana-mana hingga ke Luar Negeri. Tapi, Pemko Siantar tampaknya belum memberikan perhatian serius,” ujar Sultan.
Sultan juga mencontohkan, sejumlah kota yang konsisten dalam pemberdayaan sektor pariwisata dan budaya. Kota-kota itu, menjadi daerah tujuan utama wisatawan.
“Sangat sayang, peran Pemko Siantar belum maksimal dalam menggali potensi sektor pariwisata dan budaya,” ucap pendiri Sanggar Budaya Rayantara ini.
Diskusi santai bagaikan di warung kopi itu, semakin menarik, ketika Daulat Sihombing menjabarkan bahwa Kota Siantar merupakan Kota Demokratis.
Mantan Hakim Adhock yang sekarang menjadi praktisi hukum ini, menyebutkanm Disebut demokratis, karena di Siantar, setiap orang bebas memberikan pendapat, ide bahkan tekanan kepada pemerintah.
Banyak kebijakan di Siantar, gagal dilaksanakan karena mengakomodir berbagai masukan, sankin demokratisnya masyarakat Siantar.
“Kita lihat, ruislag SMA, RSUD dan pembangunan Tugu Sangnaualuh, bisa gagal karena demokrasi,” imbuh Daulat.
Tetapi, lanjut Daulat, Demokratis terkadang mengarah kepada Anarkis, yang bisa membuat segala proses pembangunan hanya sebatas wacana tanpa ada eksekusi pembangunan.
Kemudian, masyarakat Siantar dijenal “Friendly”. Masyarakat Siantar sangat gampang diajak untuk berteman. Bisa saling mengerti, dan bisa bersama-sama diskusi meskipun berbeda pemikiran.
Selanjutnya, mantan anggota DRPD Siantar yang juga pegiat usaha, Rudolf Hutabarat, memaparkan kurang maksimalnya progres pembangunan di Siantar, khususnya di kawasan pinggiran.
Ironisnya, meskipun tidak maksimal, tapi lahan di persawahan di Kota Siantar sudah semakin sedikit karena banyaknya bangunan dibuat di lokasi yang tidak strategis. Bahkan terkesan, hanya berada di rusa-ruas kota saja tanpa memikirkan kawasan pinggiran.
Kemas Edy Junaidi, seorang jurnalis, pada diskusi itu mengingatkan ancaman kehadiran Jalan Tol Tebing Tinggi-Parapat, yang mendukung Destinasi Danau Toba.
“Kalau Siantar tidak berbenah, maka jelas akan ketinggal. Tidak akan ada orang berkunjung atau datang ke Siantar,” kata pria yang lebih akrab dipangil Babe ini.
Berbenah yang dimaksud Babe, Kota Siantar harus memulai fokus dalam menggali potensi khususnya potensi perdagangan dan jasa, serta kreatifitas lainnya.
“Kalau itu tidak dilakukan, Sayonara Siantar. Orang akan langsung ke Parapat-Danau Toba, tanpa melirik Siantar lagi,” sebutnya.
Hal yang penting dalam proses pembangunan Siantar, kata Zainul Arifin, adanya gerakan memperbaiki SDM dan psikologis masyarakat dalam hal memilih pemimpin.
“Secara pemikiran, ide dan gagasan, sudah dimiliki Kota Siantar. Tapi yang penting, bagaimana mengubah cara berpikir masyarakat ketika memilih pemimpin Siantar,” kata mantan Ketua BKPRMI Kota Siantar ini.
Suasana diskusi sempat pecah dengan galak tawa, para peserta dari berbagai kalangan itu. Sebab, diskusi yang menjabarkan berbagai potensi dan berbagai persoalan Siantar itu, belum semuanya mengetahui tujuannya. Apalagi, ada sosok Alpeda Sinaga yang hadir diantara peserta.
“Sebenarnya, soal potensi sudah jelas banyak untuk dikembang di Siantar. Tapi tunggu dulu, ini untuk apa. Harus jelas dulu, maunya Bang Alpeda Sinaga dulu yang menyampain maksud dan tujuannya, mengundang kita-kita. Sebab, disini disebut ngobrol santai soal siantar bersama Alpeda Sinaga,” kata Kristian Silitonga, diamini salah seorang peserta dari pegiat demokrasi.
Merespon Kristian, Rindu Marpaung pun menjelaskan, bahwa pertemuan kali ini, Alpeda Sinaga hanya sebagai pendengar pemaparan dari para peserta yang hadir.
Diskusi pun berlanjut, dan semakin menarik. Hendra salah seorang Dosen Univeristas HKBP Nomensen Siantar, menyebutkan, berbagai potensi di Siantar harus digali guna mempercepat proses pembangunan.
Khususnya di Sektor Pendidikan, Pemko Siantar kiranya dapat menjalin kerjasama dengan pihak-pihak yang berkepentingan, untuk menyediakan lapangan pekerjaan bagi masyarakat Siantar yang menamatkan pendidikan di Siantar.
Tokoh Agama, H Burhan Saragih juga menyampaikan pemikiran. Bahwa Kota Siantar bermotto “Sapangambei Manoktok Hitei”. Dan nilai-nilai itu harus dipedomani dalam menjalankan program pembangunan di Siantar.
Masih banyak peserta yang memberikan kontribusi pemikiran dalam diskusi itu, bahkan tawa kembali pecah, ketika beberapa peserta, membuat lelucon, bahwa tampaknya diskusi kali ini, seperti menginginkan cepat-cepat mengganti walikota siantar.
Sesi terakhir, Alpeda Sinaga diberikan kesempatan berbicara. Dia mengaku, bahwa benar dirinya terpangil ingin memberikan kontribusi pemikiran dan berencana bertaung pada pemilihan walikota mendatang.
Pria Kelahiran Siantar yang merupakan Alumni SMA Negeri I Siantar ini, mengaku terus mengikuti perkembangan Kota Siantar, melalui berbagai media.
Bahkan, atas kecintaannya terhadap Siantar, dirinya sudah menyusun berbagai program yang nantinya dijabarkan dalam proses pemilihan.
“Saya berniat menjadi pemimpin di Siantar. Untuk itu, saya butuh informasi, saran dari saudara-saudara semua. Bukti keseriusan, saya sudah susun berbagai program yang nantinya kita sinkronkan,” kata Alpeda sembari menunjukkan bundle berisi program yang disusunnya.
Alpeda menambahkan, diskusi yang sama akan dilakukannya secara berkelanjutan, untuk menerima masukan dan saran dari berbagai stekholder. Sebab menurutnya, Kota Siantar memiliki pemikir yang bisa menjadikan Kota Siantar lebih baik dan maju.
“Terimakasihm kepada semua teman-teman yang sudah hadir, kiranya diskusi ini nantinya sedara terus menerus kita lakukan. Dan kita siap berkomunikasi dan berdiskusi demi kebaikan Kota Siantar ke depan,” ucapnya mengakhiri. (manto/snc)

