Dikesempatan yang sama, Direktur Sayuran dan Tanaman Obat, Ismal Wahab menambahkan beberapa solusi yang sifatnya mendasar dalam menjaga stabilisasi harga. Yakni harus hitung dulu berapa tingkat kebutuhan perwilayahan.
“Baru kita hitung berapa yang harus kita tanam,” ujar Ismail.
Menurut Ismail, penanaman cabai pun harus tetap berbasis kawasan, namun harus dihitung berdasarkan kapasitas kebutuhan di masing-masing daerah. “Kuncinya satu, tingkat kepatuhan manajemen pola tanamnya harus dikawal ketat,” tegasnya.
Sementara itu, Ketua Asosiasi Agribisnis Cabai Indonesia (AACI), Abdul Hamid menegaskan pelaku usaha cabai Indonesia harus mampu mengembangkan diri baik teknologi maupun pemasaran.
Hasilnya, banyak permasalahan cabai yang bisa dielesaikan dan minimal dapat mengurangi resiko kerugian akibat harga fluktuatif.
“Yang jadi masalah sebenarnya bukan harga yang murah saja, tetapi biaya produksi kita yang mahal. Nah kita harus bisa mengurangi biaya usaha tani agar cabai dan petani kita bisa tetap eksis,” tuturnya. (rel/snc)

