Oleh | Pdt. Erwin Ar. Saragih, M.Th
Sejarah perjuangan para guru bisa ditarik sejak zaman kolonial Belanda. Dimulai dengan keputusan para guru pada 1932 yang mengubah nama Persatuan Guru Hindia Belanda menjadi Persatuan Guru Indonesia.
Dan, seratus hari setelah proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia, guru-guru Indonesia; dalam Kongres Guru Indonesia; sepakat mendirikan Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI).
Melalui kongres ini, semua organisasi dan kelompok guru yang didasarkan atas perbedaan tamatan, lingkungan pekerjaan, daerah, politik, agama, dan suku, sepakat dihapus. Mereka adalah guru-guru yang aktif mengajar, pensiunan yang aktif berjuang, dan pegawai pendidikan Republik Indonesia yang baru dibentuk. Mereka bersatu untuk Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Pada 1994, peristiwa 25 November 1945 ini dikukuhkan dengan menetapkan berdirinya PGRI sebagai Hari Guru Nasional. Sejak itu, tiap tahun sekolah-sekolah diharapkan memperingatinya dengan berbagai kegiatan.
Di masa pandemi, para guru sebenarnya sadar, bahwa mereka telah berubah menjadi birokrat pendidikan. Jika ditanya mengapa maka mereka akan menjawab; kami ditekan keadaan. Ciri birokrat yang administratif, teknis, dan kaku lebih ditonjolkan dari ciri guru yang menginspirasi kehidupan. Mereka sadar namun tetap berubah menjadi birokrat, karena keterpaksaan tuntutan standard prokes.
Guru melepaskan peran esensialnya, dan berubah menjadi birokrat tanpa jiwa. Mereka sadar namun keadaan memaksa.
Alasannya, Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) yang mengharuskan siswa masuk ke proses digitalisasi, tanpa menggunakan tiga pendekatan Ki Hajar Dewantara, yaitu Niteni, Niroke, dan Nambahi yang berarti mengamati, meniru, dan menambahkan. Akhirnya, para murid menjadi korban yang tidak lagi mencicip pendidikan yang bermakna di masa pandemi.
Dua tahun lebih, para Ibu dengan bermodalkan keberanian dan harapan, telah menggantikan posisi guru itu sendiri. Dan dua tahun masa pandemi, di tangan para Ibu lah masa depan bangsa ditentukan. Dan di hari Guru ke 76, ku alamatkan ucapan selamat untukmu Ibu, Guruku di masa pandemi.
Penulis Pendeta Resort Haranggaol, Distrik III