Fini menuturkan, peternak sebagai produsen sapi bisa merasakan harga jual sapi yang layak, dan konsumen di Jakarta pun bisa merasakan daging sapi yang berkualitas dan harga yang juga tidak terlalu tinggi.
Menurut Fini, keberadaan kapal ternak yakni KM. Camara Nusantara 1-6 juga dinilai sangat bermanfaat karena pemerintah bisa mengetahui angka suplai sapi ternak dalam negeri.
“Kalau kita tahu data suplai dalam negeri, nanti kita juga akan tahu, berapa sih impor sapi yang dibutuhkan,” imbuhnya.
Fini menyampaikan, pada tahun 2018 loading factor 6 unit kapal ternak telah mencapai 88 persen, dengan jumlah ternak yang diangkut 30.803 ekor dr 78 pelayaran.
Adapun konektivitas trayek angkutan ternak tahun ini ada 6 rute, yakni: KM. Camara Nusantara 1 oleh PT Pelni (Kupang-Waingapu-Tanjung Priok-Cirebon-Kupang), KM. Camara Nusantara 2 oleh PT ASDP (Kupang-Wini-Atapupu- Tanjung Priok-Kupang), KM Camara Nusantara 3 oleh PT Pelni (Kupang-Waingapu-Tanjung Priok-Cirebon-Surabaya-Dumai-Cirebon-Kupang).
Selanjutnya KM. Camara Nusantara 6 oleh PT Subsea (Bima-Badas-Parepare-Palu-Balikpapan/Samarinda-Bima), dan rute yang terakhir KM. Camara Nusantara 5 oleh PT ASDP (Celukan Bawang-Tanjung Priok-Kupang-Wini-Atapupu- Samarinda-Celukan Bawang).
“Untuk mengoptimalkan pemanfaatan kapal, saat ini juga sudah dipersiapkan untuk mendukung pemasaran ekspor, salah satunya adalah ekspor kambing ke Malaysia dengan potensi 60.000 ekor per tahun,” ungkap Fini.
Dia menambahkan, langkah yang dilakukan memberikan keuntungan bagi peternak terkait dengan lebih tingginya harga. Untuk memfasilitasi hal tersebut Kemenhub telah merevisi SK Dirjen Perhubungan Laut tentang jaringan kapal khusus angkutan ternak tahun 2018 dengan trayek Surabaya ke Dumai. (rel/snc)

