BERHENTI mengolok-olok pawang hujan di Mandalika, berhenti berdiskusi tentang kepercayaan agama, berhenti mengolok-olok Mbak Rara. Sebab ini bukan seperti yang dipikirkan, tetapi ini sebenarnya tentang gimik marketing yang sangat jenius.
Terselenggaranya Moto Grand Prix di Indonesia, tepatnya di Mandalika, tentunya melibatkan banyak orang-orang hebat. Terkhusus keterlibatan BUMN. Dan kita mengetahui bahwa Erick Thohir adalah kunci suksesnya BUMN.
Pertanyaannya adalah apakah Erick Thohir atau orang-orang hebat tersebut begitu bodoh, sehingga harus percaya pada pawang hujan, percaya pada hal-hal mistis.
Masih ingatkah kita pada Asean Games tahun 2018?, bagi saya pribadi, ada yang berkesan, dimana Presiden Jokowi naik motor dan menampilkan atraksi-atraksi yang sangat memukau. Ini tentunya menjadi gimik marketing yang mampu menyita perhatian dunia. Dan kita mengetahui bahwa Ketua Panitia Asean Games saat itu ialah Erick Thohir. Semakin jelas polanya bukan?
Terlepas banyaknya komentar negatif pada Mbak Rara yang tampil di Moto GP. Nyatanya, strategi marketing ini berhasil menyita perhatian publik. Bukan hanya di Indonesia, tetapi juga dunia.
Orang akhirnya membicarakan Moto GP, membicarakan Indonesia, dan membicarakan Mandalika. Lalu, bukankah ini menjadi ajang promosi gratis?
Ada beberapa alasan bagi saya yang menguatkan bahwa Mbak Rara menjadi gimik promosi gratis. Yang pertama ialah kenapa harus perempuan menjadi pawang hujannya?. Kenapa bukan laki-laki? Karena perhatian publik tidak akan seheboh saat ini, ketika itu laki-laki. Karena dukun laki-laki itu ialah hal biasa. Saya menjadi teringat salah satu film horor Thailand yang sangat terkenal, yaitu The Medium, dimana sebuah film yang menceritakan tentang dukun perempuan, dan film ini berhasil menyita banyak penonton.
Kedua, dari pengamatan di banyak video, Mbak Rara dikeluarkan saat hujan mulai reda, dan ditampilkan dengan penampilan ritual yang begitu epic.
Ada kameramen yang mengikuti beliau. Ini menjadi satu sin yang sangat menarik, di salah satu rangkaian acara live Moto GP. Tentu, ini tidak terjadi di acara Moto GP manapun.
Lalu, kenapa Mbak Rara sebagai pawang hujan tidak bekerja di belakang layar saja, tidak perlu ditampilkan secara live atau di depan kamera. Karena lazimnya tradisi pawang hujan di Indonesia bekerja di belakang layar. Alasannya, Moto GP Mandalika tidak hanya live di Indonesia saja, tetapi seluruh dunia melihat. Artinya, Mbak Rara disengaja dipertontonkan untuk dunia, untuk menarik perhatian dunia. Sehingga dunia akan mencari informasi tentang Indonesia, karena tertarik pada hal mistis, salah satu alasannya.
Tanpa disadari, bicara Mbak Rara sebenarnya bukan soal mistis, tapi soal gimik marketing yang sangat cerdas menurut saya. (*)
Penulis adalah Pendeta GKPS Resort Haranggaol