SimadaNews.com-Kader-kader Perhimpunan Mahasiswa Katolik Indonesia (PMKRI) Cabang Pematang Siantar, meggelar Diskusi Publik bertajuk “Danau Toba dan Kesejahteraan Masyarakat”.
Diskusi publik digelar, dalam rangka perayaan Dies Natalis 55 Tahun PMKRI, Sabtu 4 Oktober 2019.
Pada diskusi publik kali ini, hadir sebagai pembicara Gagarin Sembirng selaku Wakil General Maneger Geopark Kaldera Toba, Ricard Sidabutar mantan anggota DPRD Sumut, Anton Sipayung selaku Manejer Kajian WALHI Sumut dan Suparno Mahulae, Komisaris Daerah Sumbagut.
Anton Sipayung, menyampaikan, permasalahan Danau Toba saat ini sudah sangat kompleks terutama dalam kesehatan ekosistem danau toba.
Danau Toba kini tidak ubahnya tempat sampah raksasa, dimana sampah dari aktivitas industri, perhotelan, dan juga warga sekitar semuanya mengarah ke Danau Toba, sehingga potensi kerusakan Danau Toba sudah nyata terjadi. Kondisi itu juga diperparah, hadirnya perusahaan-perusahaan yang memanfaatkan Danau Toba sebagai tempat indsutri.
“Butuh waktu lama untuk menetralisir kembali kebersihan air Danau Toba,” kata Anton.
Gagarin Sihombing, perwakilan dari Geopark Kaldera Toba, menjelaskan bagaimana kedudukan lembaga itu dalam hal pengembangan Destinasi Wisata Danau Toba.
Dia mengatakan, Geopark Kaldera Toba dibentuk karena keinginan kolektif dari masyarakat, untuk serius menangani Danau Toba.
Hal ini direspon oleh Pemerintah Provinsi Sumatera Utara, maka dibentuklah lembaga, sekaligus juga bersinergi dengan Badan Otorita Danau Toba (BODT) dan Dinas Parawisata.
Dalam hal pengembangan Danau Toba, Gagarin menyebut, perlu adanya pendekatan soft tourism dan membangun narasi kebudayan dari mitos menjadi logika, sehingga memiliki nilai jual di masyarakat.
Sedangkan Ricard Sidabutar, mengatakan pengembangan Danau Toba harus jelas arahnya kepada siapa dan menguntungkan siapa. Jangan sampai keberadaan badan-badan bentukan pemerintah, hanya memuluskan jalan para investor untuk masuk menjarah Danau Toba.
Richard menuturkan, regulasi pada dasarnya sudah disediakan oleh pemerintah, mulai dari peraturan Presiden hingga peraturan gubernur. Namun, peraturan sering sekali tidak mampu diterjemahkan dengan baik oleh para pemangku jabatan.
“Dan permasalahan Keramba Jaring Apung (KJA) harus segera dibereskan,” tegas Richard.
Suparno Mahulae, mewakili kaum muda mengawali diskusi dengan lagu Pulo Samosir Ciptaan Namum Situmorang. Ia mengatakan, sulit menemukan relevansi antara lagu tersebut apabila berkaca dari situasi Danau Toba saat ini.
Dia menambahkan, negeri indah kepingan surga yang dilabeli kepada Danau Toba dan Samosir pada khususnya kini semakin jauh dari harapan.
“Maraknya perusakaan lingkungan baik oleh korporasi, maupun perseorangan semakin memperparah situasi Danau Toba,” sebutny.
Kegiatan diskusi diakhiri dengan memberikan ulos sebagai cenderamata kepada keempat narasumber dilanjutkan foto bersama. Setelah itu kegiatan dilajutkan dengan perayaan dies natalis berupa potong kue, pengumuman pemenang lomba cipta puisi, dan kegiatan menarik lainnya. (snc)
Editor: Hermanto Sipayung


