Oleh | Devri Lasmaria Butar-butar
Impian atau harapan itu, ibarat cahaya di kegelapan. Menjaga impian adalah bentuk dari kekuatan. Sementara menyerah atau mematikan impian, adalah bentuk keputusasaan.
Menjadi cahaya di tengah kegelapan bukanlah hal yang mudah, sama halnya berimpian dan bercita-cita di tengah wabah pendemi ini.
Tetapi, setiap penyakit pasti ada obatnya, namun apakah begitu juga akan berlaku dengan penyakit yang disebut virus sekarang ini? Kapan obat itu akan ditemukan? Akankah kamu menikmati kembali suasana kelas dengan proses belajar mengajar? Akankah negeri ini diisi oleh anak-anak bangsa yang beretika dan bijaksana suatu saat nanti?
Di masa pandemi, banyak kasus kejahatan yang dilakukan anak-anak negeri, yang relaif masih berusia di bawah umur 17 tahun.
Banyak yang mengatakan apa yang telah terjadi seperti sekarang ini adalah bentuk teguran pada kita, khususnya anak-anak sekolah yang dahulu sering menyia-nyiakan waktu belajar dalam kelas dengan membolos dan lain-lainnya.
Apabila itu benar “mengapa semua kena teguran padahal tidak semua yang melakukan hal seperti itu?
Sungguh memprihatinkan, jika impian dan cita-cita yang tinggi namun bagai dibentengi sebuah beton masa pandemi.
Yang terjadi saat ini, anak-anak negeri yang ingin berkarya dan berkreasi sekreatif mungkin, namun dibatasi jaringan dan keterbatasan kemampuan ekonomi untuk memiliki teknologi.
Tetapi, situasi saat ini, di masa pandemi Covid-19, walau kebanyakan anak-anak berasal dari keluarga yang tidak mampu, diperhadapkan pada masalah kelengkapan fasilitas terealisasinya sistem dalam jaringan (daring) mau pun luar jaringan (luring), merupakan tantangan yang harus dicarikan solusinya.
Rasa bangga, orangtua masih mampu mengantar untuk mengecap bangku kuliah, adalah rasa syukur yang sangat besar. Semangat inilah, yang memacu untuk tidak tampil menjadi generasi “cengeng”, tetapi harus menguatkan obsesi menggapai cita-cita.
Di masa pandemi ini, semuanya sembari dibatasi dan membuat kita tidak bisa bergerak bebas berkreasi apalagi bagi anak negeri yang berada di wilayah yang sulit dijangkau jaringan telekomunikasi.
Anak-anak negeri ini selalu berharap dan pastinya berdoa masing-masing, agar pandemi ini berakhir, agar dapat berkarya dan berkreasi dengan ruang lingkup yang bebas tanpa dibatasi jaringan yang biasanya sulit didapat di perkampungan.
Tuhan terima kasih untuk pengalaman panjang yang berharga di masa pandemi ini dan berikan jalan agar semua cepat reda dan berlalu, agar semua anak negeri dapat menikmati kembali masa sekolah yang indah.
Sungguh pengalaman luar biasa yang Engkau berikan dengan masa pandemi Covid-19, yang mengajarkan kami arti menghargai dan tidak menyia-nyiakan impian dan kesempatan yang ada.
Hanya ini Impian dan Permohonan kami Tuhan Kiranya engkau kabulkan dan menunjukkan secepatnya titik terangnya Tuhan,,Aminn.
@Penulis, mahasiswa Prodi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Universitas HKBP Nommensen Pematangsiantar dan aktivis Kelompok Studi Pendidikan Merdeka (KSPM).