Oleh: Eduardus B. Sihaloho, S.Ag
Sepanjang pengetahuan saya bahwa tidak ada suku di Indonesia yang mempunyai tradisi atau adat mengantri dalam keseharian hidup mereka. Tapi walaupun demikian, budaya mengantri menjadi tren hidup yang dipraktikkan di berbagai instansi atau pelayanan umum. Bagi masyarakat Indonesia, kebiasaan mengantri dirasa sebagai suatu kesia-siaan yang menghabiskan banyak waktu.
Di tengah masyarakat kita hukum kolonial atau cara feodal masih berlaku. Sebab ketika masyarakat berurusan dengan instansi pemerintah atau pelayanan publik, saat begitu tiba, maunya langsung dilayani dengan secepatnya. Ketika waktu sudah berlalu beberapa saat akan dicari cara bagaimana supaya urusannya cepat bisa klar.
Bahkan berusaha mencari siapakah orang dalam yang bisa menolong, supaya urusan bisa cepat selesai. Kemudian tidak itu saja, bahkan berusaha membayar berapa pun tidak masalah, yang paling penting urusan cepat selesai dan hasilnya cepat didapatkan.
Sebagai perbandingan dalam menghidupi budaya antri, guru-guru di Negara maju tidak merasa khawatir kalau murid-murid yang diajarnya tidak menguasai matematika. Tetapi mereka sangat khawatir apabila anak-anak yang mereka ajar tidak bisa mengantri di tengah masyarakat. Persoalannya bagi mereka hidup mengantri atau kebiasaan mengantri itu sudah menjadi bagian hidup yang tidak terpisahkan. Perilaku mengantri jauh lebih penting daripada hanya sekedar pengetahuan matematika (tambah, kurang, kali, dan bagi). Sedangkan bagi guru-guru dan orangtua di Negara-negara berkembang seperti Indonesia kebiasaan mengantri bukan menjadi prioritas yang harus diajarkan kepada anak didik.
Artinya, anak-anak dibiarkan saja mengikuti ritme hidup yang terjadi di masyarakat. Ketika mereka dituntut untuk mengantri, silahkanlah ikuti, sedangkan kalau tidak ada tuntutan untuk mengantri, biarkan saja demikian. Sebab bagi masyarakat kita nilai atau makna kebiasaan mengantri belum dipahami. Namun kalau dilihat lebih dalam bahwa kebiasaan mengantri sangat menentukan bagaimana seseorang mampu menghargai orang lain.
Budaya antri merupakan hal yang penting yang mestinya dihidupi oleh masyarakat, supaya menjadi bagian dari kepribadian seseorang. Budaya antri menjadi salah satu tolok ukur kemajuan suatu bangsa, sebab secara logika dipandang suatu bangsa tidak akan maju apabila masyarakatnya tidak teratur dan berdisiplin.
Sebab disiplin dan keteraturan untuk mempertahankan performa yang sedang dijalankan dalam meraih kemajuan. Dengan mempraktikkan budaya mengantri akan melahirkan banyak pesan moral yang bagi diri sendiri dan orang di sekitarnya dan menjadi inspirasi bagi orang-orang lain.
Bagi masyarakat kita budaya antri dipandang belum sebagai suatu kebutuhan, melainkan keterpaksaan karena dituntut suatu institusi ketika mengurus satu kepentingan di institusi tersebut. Dalam berbagai kegiatan atau hajatan sering disampakan peringatan supaya antri, tetapi masyarakat tidak menghiraukan dan menganggapnya tidak penting, mereka hanya memikirkan dirinya sendiri terlebih dahulu. Tidak itu saja orang tua pun menjadi salah satu bagian yang tidak menghiraukan pentingnya budaya antri di Indonesia, karena tidak mengajarkan kepada anak-anak mereka pentingnya kebiasaan mengantri.
Sebuah studi di Australia memaparkan bahwa orangtua lebih mementingkan anak-anak mereka soal sopan santun dan attitude terhadap masyarakat dan makhluk hidup lain. Sebab sopan santun dan attitude tersebut menjadi bukti dan pertanda bahwa anak-anak mereka telah diajarkan nilai-nilai yang baik dalam rumah, kemudian dipraktikkan di tengah masyarakat. Sebab tingkat kemajuan suatu bangsa dapat dilihat dari ketertiban masyarakatnya.
Semakin tertib masyarakatnya pada hukum dan norma yang berlaku semakin majulah negara tersebut, namun sebaliknya terjadi apabila masyarakat tidak taat pada aturan dan norma dan hanya mementingkan kepentingannya sendiri, maka kemajuan sulit didapatkan di situ. Di masyarakat kita untuk menerapkan budaya antri masih menjadi usaha yang keras, sebab masyarakat beranggapan bahwa ketika kepentingannya cepat diakomodir dan dilayani tidak peduli bagaimana prosesnya.
Berbanding terbalik dengan cara pandang orangtua-orangtua di Negara maju, di masyarakat kita justru banyak orangtua mengajari anaknya ketika mengantri dan menunggu giliran yang memaksa anaknya untuk ”menyusup” ke antrian depan dan mengambil hak orang lain yang lebih dulu mengantri dengan rapi.
Cara mereka dengan ungkapan berikut: ”Sudah cuek saja, pura-pura nggak tahu saja!” Kemudian ada juga orangtua yang memarahi anaknya dan berkata: ”Dasar Penakut!” Mengapa muncul ucapan yang demikian, karena anaknya tidak mau dipaksa menyerobot antrian. Lalu ada lagi orangtua yang memakai taktik atau alasan, supaya dia atau anaknya diberi jatah antrian terdepan. Mereka membuat alasan anaknya masih kecil, capek, rumahnya jauh, orang tak mampu, dan sebagainya.
Tidak itu saja ada juga orangtua yang marah-marah, karena dia atau anaknya ditegur gara-gara menyerobot antrian orang lain, lalu ngajak berkelahi dengan si penegur. Artinya, berbagai cara akan dilakukan dengan tujuan supaya tidak mengikuti antrian yang panjang. Kecenderungan masyarakat kita adalah tidak mau ikut proses yang terjadi dalam hidup.
Etika budaya mengantri atau etika budaya antri bukan persoalan benar salah suatu tindakan yang dilakukan oleh seseorang di tengah masyarakat. Tetapi lebih memandang suatu perbuatan tentang baik buruknya terhadap si pelaku atau bagi orang lain sekitarnya. Etika membicarakan tingkah laku manusia sebagai makhluk sosial dan hubungan interaksinya dengan manusia lain baik dalam lingkup terkecil keluarga hingga yang terbesar Negara atau bangsa.
Etika erat kaitannya dengan penilaian, karena pada hakikatnya etika membicarakan sifat manusia, sehingga seseorang bisa dikatakan baik, bijak, jahat, bersusila atau sebagainya. Secara khusus etika ada pada prinsip manusia sebagai subyek sekaligus obyek, bagaimana manusia berperilaku atas tujuan untuk dirinya sendiri dan tujuan untuk kepentingan bersama. Karena itu, budaya antri menjadi indikator dari suatu komunitas masyarakat entah suku atau bangsa tentang budaya disiplin dan hidup teratur.
Artinya, ketika budaya antri menjadi habit yang melekat dan terinternalisasikan ke dalam diri seseorang, maka kebiasaan itu menjadi sesuatu yang bernilai dalam dirinya. Karena kebiasaan itu menjadi satu keunggulan dibandingkan dengan orang lain. Sebab dalam kebiasaan antri bukan hanya soal supaya teratur sesuatu kegiatan, tetapi ada banyak yang sangat bernilai yang mesti diperjuangkan, sehingga melekat secara alamiah ke dalam diri seseorang.
Nilai itu menjadi penentu bagaimana tindakan tersebut sangat bermakna bagi siapapun yang melakukannya. Karena itu, untuk membudayakan sesuatu yang bukan berasal dari latar belakang kehidupannya, akan menghadapi tantanggan yang berat untuk dilaksanakan. Alasannya karena tindakan itu bukan sesuatu yang mudah untuk diciptakan, sebab perlu kesadaran yang mendalam dari orang-orang yang hendak melakukannya sebab di dalamnya memiliki nilai yang sangat tinggi.
Nilai berkaitan dengan etika. Etika diterapkan dalam hal baik-buruknya suatu tindakan dari seseorang. Maka nilai dari budaya antri berkaitan dengan etika tentang baik-buruknya perbuatan mengantri dalam hidup bermasyarakat, ketika berada di tengah-tengah orang lain.
Nilai atau pembelajaran yang didapat dari kebiasaan mengantri adalah: pertama, belajar manajemen waktu. Jika seseorang saat mengantri ingin berada pada posisi paling depan, dia harus datang lebih awal dan persiapan lebih awal. Seseorang yang hendak berada di posisi paling depan tidak bisa datang ketika orang lain sudah mulai berbaris. Kalau demikian yang terjadi, maka posisinya tidak boleh di depan.
Kedua, belajar bersabar menunggu giliran. Artinya, jika seseorang hendak mendapat antrian di tengah atau di belakang tentu dia harus bersabar menunggu gilirannya. Tujuannya agar dia membiarkan orang yang lebih di depan menjalankan gilirannya.
Ketiga, belajar menghormati hak orang lain, yang datang lebih awal dapat giliran lebih awal. Menghormati orang yang datang lebih awal, sebab mereka telah mempersiapkan diri lebih awal dari kita. Maka harus dihormati haknya yang lebih awal datangnya.
Keempat, belajar disiplin, setara, tidak menyerobot hak orang lain. Pembelajaran penting lain yang didapat dari mengantri adalah setara dan tidak menyerobot hak orang lain. Artinya, orang-orang yang berada dalam antrian berada dalam derajat yang setara, maka harus saling menghargai. Dari mengantri didapat juga pembelajaran untuk tidak menyerobot hak-hak orang lain, sebab setiap orang dalam antrian tersebut memiliki hak yang sama.
Kelima, belajar kreatif untuk memikirkan kegiatan apa yang bisa dilakukan untuk mengatasi kebosanan saat mengantri. (Di Jepang biasanya orang akan membaca buku saat mengantri). Ketika mengetahui akan masuk dalam sebuah antrian saat mengurus suatu urusan, maka perlu mencari cara bagaimana supaya selama antrian tidak membosankan, maka orang harus kreatif untuk mengisi waktu yang demikian tersebut.
Keenam, belajar bersosialisasi dan berkomunikasi dengan orang lain dalam antrian. Selama beberapa saat berada dalam antrian yang panjang tentulah tidak tahan untuk diam saja tanpa berbicara dengan orang lain. Karena itu, saat mengantri menjadi kesempatan untuk bersosialisasi dan berkomunikasi dengan orang-orang yang berada dalam barisan antrian.
Ketujuh, belajar tabah dan sabar menjalani proses dalam mencapai tujuannya. Tabah dan sabar menjadi kunci saat menjalani antrian, sebab kalau tidak sabar dan tabah, maka barisan antrian bisa ditinggalkan. Akhirnya urusanpun menjadi terkendala atau tidak jadi diselesaikan.
Kedelapan, belajar hukum sebab akibat, bahwa jika datang terlambat harus menerima konsekuensinya di antrian belakang. Dari kebiasaan mengantri timbul pembelajaran sebab-akibat yang diterapkan dalam hidup. Artinya, orang yang terlambat datangnya jangan berharap untuk berada di posisi paling depan. Ketika terlambat, terimalah posisi berada di posisi belakang.
Kesembilan, belajar disiplin, teratur, dan menghargai orang lain. Orang-orang yang terbiasa dengan mengantri menjadi disiplin, teratur hidupnya, dan mampu menghargai orang lain. Sebab dia mampu memanage waktunya, sehingga ketika ada kegiatan yang mengharuskan untuk mengantri, waktunya akan diatur dengan baik.
Kesepuluh, belajar memiliki rasa malu, jika ia menyerobot antrian dan hak orang lain. Bagi masyarakat yang telah terbiasa dengan hidup mengantri, ketika ada orang yang menyerobot antrian, maka timbul rasa malu dalam dirinya, sebab dia telah mengambil hak orang lain yang bukan haknya. Inilah nilai-nilai yang muncul dari budaya mengantri. Karena itu, sangat layak dan mendesak untuk dilakukan dalam masyarakat kita.
@Penulis, alumnus Universitas Katolik Santo Thomas Sumatera Utara, Medan dan bekerja di Kantor Kementerian Agama Kota Tanjungbalai-Sumatera Utara.