SimadaNews.com – Harungguan Purba Simalungun Indonesia (HPSI) menggelar sosialisasi partuturan serta pakaian adat Simalungun kepada siswa dan guru SMA GKPS Pamatang Raya, Jumat (8/5/2026).
Kegiatan ini dilaksanakan sebagai upaya menanamkan nilai-nilai adat dan budaya Simalungun kepada generasi muda agar tetap lestari di tengah perkembangan zaman.
Kegiatan yang berlangsung di aula SMA GKPS Pamatang Raya itu dibuka langsung Ketua Umum HPSI, Mangapul Purba, SE, M.I.Kom, yang juga menjabat Ketua Fraksi PDIP DPRD Sumatera Utara.
Dalam sambutannya, Mangapul Purba menegaskan bahwa peradaban bangsa Indonesia tidak dapat dipisahkan dari kebudayaan daerah.
Menurutnya, budaya menjadi salah satu faktor penting dalam pembangunan nasional sehingga perlu diwariskan kepada generasi penerus.
“Generasi muda merupakan garda terdepan dalam menjaga dan melestarikan adat budaya. Karena itu HPSI merasa terpanggil untuk terus mensosialisasikan nilai-nilai budaya Simalungun kepada pelajar,” ujarnya.
Peserta kegiatan terdiri dari siswa dan guru SMA GKPS Pamatang Raya di bawah kepemimpinan Kepala Sekolah Julven Purba, S.Pd.
Dalam sambutannya, Julven mengapresiasi pelaksanaan kegiatan tersebut karena dinilai mampu menambah pemahaman siswa mengenai adat dan budaya Simalungun, khususnya partuturan dalam kehidupan sehari-hari.
“Kegiatan ini sangat bermanfaat bagi siswa agar memahami tata krama, sistem kekerabatan, dan penggunaan pakaian adat Simalungun secara benar,” katanya.
Acara diawali dengan penyambutan rombongan HPSI melalui tortor Simalungun yang ditampilkan siswa SMA GKPS, dilanjutkan ibadah, menyanyikan lagu Indonesia Raya, dan sesi sosialisasi.
Sekretaris DPP HPSI, Rohdian Purba, S.Si, M.Si, yang menjadi narasumber pada materi partuturan adat budaya Simalungun, menjelaskan bahwa generasi milenial saat ini mulai banyak yang tidak memahami sistem panggilan kekerabatan dalam budaya Simalungun.
Ia mencontohkan mulai berubahnya panggilan adat seperti “makela” yang kini sering disingkat menjadi “kel”, serta “tulang” yang dipanggil “tul”. Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan mulai tergerusnya pemahaman terhadap budaya Simalungun.
“Jika tidak ditanamkan sejak dini, maka 10 hingga 20 tahun ke depan partuturan adat Simalungun bisa hilang dan berdampak pada rusaknya hubungan kekerabatan,” ujarnya.
Rohdian juga menjelaskan pentingnya pemahaman sistem kekerabatan dalam hubungan sosial maupun pernikahan adat Simalungun.
Ia menerangkan bahwa meskipun berbeda marga, tidak semua perempuan dapat dinikahi karena terdapat aturan adat tertentu, termasuk konsep pariban dalam budaya Simalungun.
Sementara itu, narasumber lainnya, Djapaten Purba, BME, memaparkan materi mengenai pakaian adat Simalungun.
Ia menilai pemahaman mengenai penggunaan hiou dan atribut adat perlu diajarkan sejak dini karena saat ini banyak masyarakat yang tidak lagi mengenakan pakaian adat sesuai ketentuan budaya Simalungun.
Menurutnya, setiap jenis hiou memiliki arti dan makna tersendiri, seperti gotong, bulang suri-suri, ragi panei, dan ragi cantik, termasuk tata cara pemakaiannya bagi laki-laki maupun perempuan.
“Pemakaian pakaian adat Simalungun memiliki aturan dan filosofi tersendiri yang harus dipahami agar tidak kehilangan makna budaya,” katanya.
Di akhir kegiatan, siswa dan guru SMA GKPS Pamatang Raya menyampaikan apresiasi atas sosialisasi tersebut karena dinilai menambah wawasan dan pemahaman mereka mengenai adat budaya Simalungun yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, baik di lingkungan sekolah, keluarga, maupun masyarakat.
Kegiatan ditutup dengan pemberian cenderamata dari pihak sekolah kepada Ketua Umum HPSI dan para narasumber. (SNC)
Laporan: Romanis Sipayung


