SimadaNews com- Tekanan terhadap mata uang rupiah belum mereda. Pada pembukaan perdagangan Jumat (22/5/2026), nilai tukar rupiah kembali terpeleset hingga menyentuh level Rp17.698 per dolar Amerika Serikat (AS), memperlihatkan masih kuatnya tekanan eksternal yang membayangi pasar keuangan domestik.
Pelemahan terjadi di tengah sikap hati-hati pelaku pasar yang memilih menunggu arah baru dari kondisi ekonomi global maupun data ekonomi dalam negeri.
Sentimen geopolitik internasional hingga ekspektasi kebijakan moneter AS disebut masih menjadi faktor dominan yang menekan mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia.
Tak hanya rupiah, mayoritas mata uang Asia juga bergerak di zona merah terhadap dolar AS. Yen Jepang, dolar Singapura, won Korea Selatan hingga baht Thailand sama-sama mengalami pelemahan, menandakan penguatan dolar masih menjadi tren utama di pasar regional.
Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai investor saat ini cenderung mengambil posisi “wait and see” sambil menunggu sejumlah sentimen penting, termasuk data transaksi berjalan Indonesia kuartal pertama 2026.
Menurutnya, ketidakpastian global juga ikut memperbesar tekanan terhadap rupiah, terutama terkait perkembangan geopolitik Timur Tengah yang kembali memicu kekhawatiran pasar.
“Pelaku pasar masih berhati-hati dan menunggu sentimen baru,” ujar Lukman.
Ia memperkirakan pergerakan rupiah hari ini masih berada di kisaran Rp17.600 hingga Rp17.750 per dolar AS.
Situasi ini memperpanjang tren pelemahan rupiah dalam beberapa pekan terakhir. Bahkan sebelumnya, Bank Indonesia mengambil langkah mengejutkan dengan menaikkan suku bunga acuan demi menjaga stabilitas nilai tukar dan meredam gejolak pasar.
Kondisi tersebut sekaligus menjadi sinyal bahwa tekanan terhadap rupiah belum sepenuhnya usai, terutama jika tensi geopolitik global dan arus modal asing masih berfluktuasi tajam. (SNC)


