“Penyerapan KUR peternakan saat ini terbesar di sektor pertanian, dengan suku bunga 7 persen peternak dapat memanfaatkan pembiayaan ini sebagai tambahan untuk meningkatkan usahanya,”ujarnya lagi.
I Ketut menambahkan, usaha peternakan rakyat di Indonesia saat ini masih bersifat subsisten (sambilan), sehingga harus didorong untuk bergeser kearah profit oriented dengan membuat kandang komunal dan berkelompok.
Sementara itu, Ali Agus selaku Dekan Fakultas Peternakan UGM menyampaikan, spirit koperasi dan korporasi perlu dibangun.
“Koperasi bukan hanya kumpulan orang-orang (peternak), namun koperasi harus memiliki spirit koorporasi yang harus diperkuat”, tambahnya.
Menurut Ali Agus, di negara-negara maju seperti Eropa dan Jepang perekonomiannya sangat ditunjang oleh bisnis koperasi atau UMKM-UMKM yang produknya akan dibeli oleh perusahaan besar (swasta), sehingga harus ada korporasi untuk melanggengkan usaha. Contohnya seperti di New Zealand, dimana peternak-peternak tergabung dalam koperasi yang menghasilkan susu dan melakukan kerjasama dengan industri persusuan seperti Fontera.
Dia menambahkan, dalam menjalankan usaha juga perlu komitmen dan sungguh-sungguh. Peternak harus meningkatkan industri yang kompetitif, dimana harus didukung oleh ketersediaan ternak, lahan untuk mendukung usaha dan sumber daya manusia dengan motivasi kerja yang tinggi, serta pemanfaatan teknologi untuk mempersiapkan industri 4.0. (rel/snc)

