Kepala Dinas Pertanian Temanggung, Masrik Amin Zuhdi, merinci setidaknya ada 7 kecamatan di Temanggung yang memasuki panen raya pada bulan Mare-April ini, diantaranya Parakan, Kledung, Tretep, Bansari, Bulu, Tlogomulyo, Ngadirejo dan Selopampang. Rata-rata didominasi varietas lokal Lumbu Hijau, Lumbu Kuning dan Lumbu Putih.
“Hasil panen bulan Maret-April akan dijadikan benih yang siap ditanam lagi mulai bulan September nanti”, jelas pria yang akrab dipanggil Amin ini.
Berdasarkan analisa usaha tani Dinas Pertanian Temanggung, biaya produksi bawang putih rata-rata 95 juta per hektar. Produksi basahnya bisa mencapai 12 ton, dan harga jual basah sekitar Rp 12 ribu per kilogram, petani sudah untung karena biaya pokok produksinya sekitar Rp8 ribu per kilogram.
“Tapi ini rata-rata, di beberapa tempat ada yang lebih ada yang kurang. Kami akan terus efisienkan biaya produksi agar makin kompetitif ke depannya,” imbuh Amin.
Salah satu koordinator importir yang melaksanakan kemitraan dengan petani setempat, Danang Aris Susanto, mengatakan komitmennya mendukung program pemerintah. Ia idak mau main-main dengan program ini karena sudah sewa gudang besar di Temanggung untuk menampung hasil panen petani.
“Tidak tanggung-tanggung kami berani serap panen petani dengan harga flat Rp18 ribu per kilo kering askip. Semua kami akan jadikan benih sesuai arahan Kementan,” ungkapnya.
Danang menambahkan saat ini terdapat 7 importir yang dikoordinirnya sudah menampung hasil panen dari Temanggung, Wonosobo hingga Boyolali. Bahkan petani yang bermitra diberikan insentif 2 ribu per kilogram jika mampu menghasilkan lebih dari 6 ton per hektar.
Petani bawang putih petarangan, Timbul, meminta pemerintah menjaga harga bawang putih agar tetap menguntungkan petani. Kemudian meminta pemerintah membantu mengatasi serangan jamur, penyakit maupun virus yang sudah ada cukup lama terutama di lahan atas.
“Ini penting supaya petani bisa terus tanam,” ujarnya. (rel/snc)

