Indonesia Siap Bersaing di Pasar Jepang
Pasar ekspor produk pertanian ke Jepang dapat dibagi dalam lima jenjang potensi pasar. Jenjang pertama dengan potensi ekspor mencapai $1,5-3,2 miliar adalah daging babi, daging sapi, daging dan jeroan unggas, serta jagung tidak untuk benih.
Pada jenjang kedua ditempati kedelai, keju dan produk susu yang lain, kopi, kelapa sawit, serta minyak nabati lain termasuk kelapa, bunga matahari, dan wijen.
Produk hortikultura buah-buahan dengan dominasi pisang dan disusul jenis buah lain yang diimpor Jepang seperti kiwi, alpukat, jeruk, jeruk nipis, anggur, nanas, stroberi, ceri, melon, semangka, beri, kelengkeng, pepaya, kurma, durian, dan apel menempati jenjang ketiga.
Selanjutnya serealia, biji-bijian, dan kacang-kacangan berupa gandum, kacang almond, kacang mede, dan pistachio berada pada jenjang keempat.
Selain itu pada jenjang keempat ini terdapat produk peternakan seperti madu dan telur serta hortikultura bunga potong dan tanaman hias.
Jenjang kelima ditempati beragam produk, antara lain hortikultura sayuran, bahan minuman penyegar seperti kakao dan produk kakao, gula, rempah-rempah, beras sosoh, bulu dan kuku binatang termasuk gading, the, serta lemak binatang.
Sumber utama impor produk peternakan untuk Jepang adalah Amerika Serikat (AS). Selanjutnya disusul oleh Thailand, Australia, Brazil, Jerman, Selandia Baru, China, dan Uni Eropa.
Dilihat dari realisasi ekspor, sebaran ekspor produk peternakan paling optimal dilakukan oleh Australia, yaitu mencapai 93,4 persen dari total potensi ekspor di pasar Jepang.
AS mendominasi ekspor tanaman pangan di pasar Jepang, khususnya untuk produk serealia, biji-bijian, dan kacang-kacangan.
Nilai ekspor AS mencapai lebih dari $3,4 milyar, sementara negara lain hanya sekitar $500 juta, sehingga AS menguasai pasar produk tanaman pangan di Jepang hingga 90 persen.
Sebaran nilai impor produk perkebunan di Jepang menunjukkan bahwa Malaysia dan Indonesia merupakan sumber utama kelapa sawit dan karet. Kontribusi negara lain dapat diabaikan karena sangat kecil. Untuk kakao dan produk kakao sumber utama impor Jepang adalah Ghana, Indonesia, Malaysia, Singapura, Thailand, Uni Eropa, AS, dan Amerika Latin.
Sayangnya realisasi ekspor Indonesia baru mencapai 27,4 persen dari potensi yang ada. Sementara Malaysia dan Ghana sudah di atas 70 persen. Singapura, negara tanpa tanaman kakao ini realisasi ekspor kakao dan produknya telah mecapai 100 persen potensi ekspor yang ada.
“Pesaing Indonesia untuk ekspor kopi di Jepang demikian banyak. Mulai dari eksportir terbesar Brazil, lalu disusul Kolombia, Vietnam, Guatemala, dan Ethiopia. Dengan penguatan kualitas produk, Indonesia sangat potensial untuk bisa memperluas penetrasi ekspor ke pasar Jepang,” tutup Sri optimistis. (rel/snc)

