SimadaNews.com-Nilai tukar rupiah kembali terpukul di awal perdagangan, Senin (18/5/2026). Mata uang Garuda dibuka melemah tajam hingga menembus level Rp17.657 per dolar Amerika Serikat (AS), seiring laju penguatan dolar AS di pasar global yang makin agresif.
Tekanan terhadap rupiah terjadi di tengah meningkatnya kekhawatiran pelaku pasar terhadap arah kebijakan ekonomi Amerika Serikat serta menguatnya permintaan aset safe haven berbasis dolar.
Kondisi itu membuat mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia, kembali berada di bawah tekanan.
Pada pembukaan perdagangan pagi, rupiah langsung tergelincir dibanding posisi penutupan sebelumnya. Pelemahan ini menjadi sinyal bahwa tekanan eksternal terhadap pasar keuangan domestik masih belum mereda.
Analis pasar uang menilai penguatan dolar AS dipicu ekspektasi suku bunga tinggi The Federal Reserve yang diperkirakan bertahan lebih lama. Selain itu, arus modal asing juga mulai bergerak keluar dari aset berisiko untuk mencari instrumen yang dianggap lebih aman.
“Dolar AS masih dominan menguat karena pelaku pasar cenderung menghindari risiko,” ujar seorang analis pasar keuangan, dikutip dari laporan pasar.
Situasi tersebut membuat pelaku pasar domestik waspada terhadap potensi pelemahan lanjutan rupiah dalam beberapa waktu ke depan, terutama jika sentimen global kembali memanas.
Meski demikian, pelaku pasar masih menunggu langkah Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar di tengah gejolak pasar global yang terus bergerak dinamis. (SNC)


