SimadaNews.com– Meningkatkan penyerapan karet rakyat di dalam negeri, peningkatan dan penstabilan harga pada tingkat petani/rakyat, serta untuk pelaksanaan peremajaan kebun karet rakyat, maka pemerintah mengambil langkah-langkah.
Direktur Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian, Kasdi Subagyono, mengatakan, upaya yang dilakukan pemerintah untuk mengatasi permasalahan harga karet antara lain Meningkatkan kerjasama International Tripartite Rubber Council (ITRC) dan/atau negara-negera pengekspor karet untuk mendorong peningkatan harga ekspor karet yang adil dan remuneratif melalui penerapan Agreed Export Tonnage Scheme (AETS), Demand Promotion Scheme (DPS), Supply Management Scheme (SMS) serta pembentukan Regional Rubber Market (RRM) dan ASEAN Rubber Council (ARC), maupun kerjasama lainnya.
Menyusun dan menetapkan rencana aksi peningkatan pembelian dan harga karet rakyat, serta peremajaan kebun karet rakyat untuk jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang; Menyusun skema pendanaan untuk program peningkatan dan stabilisasi harga pembelian karet rakyat.
Menyusun kebijakan, kelembagaan, dan pembiayaan peremajaan kebun karet rakyat dan menetapkan kebijakan lainnya yang diperlukan dalam pelaksanaan peningkatan pembelian dan harga karet rakyat, serta peremajaan kebun karet rakyat.
Kasdi Subagyono, menuturkan, Kementerian Pertanian saat ini sedang meningkatkan pelaksanaan sistem pembinaan produk olahan karet rakyat dan mekanisme pembelian karet rakyat melalui Unit Pengolahan dan Pemasaran Bahan Olah Karet Rakyat (UPPB).
Selain itu, sedang menyusun program pelaksanaan peremajaan kebun karet rakyat yang mencakup antara lain inventarisasi lahan perkebunan karet rakyat, perbenihan, diversifikasi tanaman karet dengan tanaman lainnya, kelembagaan, dan pembiayaan.
Dia menyebutkan, pola diversifikasi merupakan sistem usahatani diversifikasi berbasis tanaman perkebunan yang berlangsung adanya integrasi atau diversifikasi fungsional antara dua komoditas atau lebih yang diusahakan oleh pekebun dalam pemanfaatan sumber mineral dan organik yang ada pada tanah, sehingga antar komoditas tidak berkompetisi, melainkan saling subtitusi dalam memenuhi kebutuhan hara atau nutrisi, sehingga terbentuk rantai ekosistem pemanfaatan zat-zat makanan secara tertutup.
Menurut Kasdi Subagyo, keuntungan pola tanam diversifikasi sebagai salah satu langkah alternatif dalam pemenuhan/penyediaan kebutuhan pangan khususnya di lahan kering (kebun) yang semakin lama semakin berkurang.
Membantu mengurangi ketergantungan produksi pangan dari lahan sawah yang lokasinya terpusat di pulau Jawa. Fungsi dari tanaman sela di lahan kebun yaitu sebagai sumber pendapatan petani, penutup tanah yang dapat mengendalikan perkembangan gulma, mengendalikan erosi, sumber bahan organik tanah dan menjaga stabilitas lingkungan.
“Dengan adanya tanaman sela, petani juga menjadi lebih sering berkunjung ke kebun karetnya, sehingga kebun menjadi lebih terpelihara; dan Tanaman sela dapat sebagai sumber pendapatan petani sebelum tanaman pokok (perkebunan) berproduksi,” katanya.
Kasdi Subagyono menambahkan, untuk solusi harga karet jangka pendek melalui pemberian bantuan pupuk, bantuan asam semut/ sarana pembuatan asam semut, bantuan pestisida, pembentukan dan penguatan UPPB, bantuan alasintan untuk pengolahan bokar bersih, serapan bokar oleh pemerintah sebesar 5 persen dari konsumsi dalam negeri.
Sedangkan untuk solusi harga karet jangka menengah bisa melalui replanting dengan diversifikasi dengan tanaman pangan dan tanaman perkebunan lain, penyerapan karet rakyat untuk kebutuhan dalam negeri, seperti aspal karet, kanal di lahan gambut, dll; bantuan alsintan untuk pengolahan bokar bersih; dan serapan bokar oleh pemerintah sebesar 5 persen% dari konsumsi dalam negeri.
“Untuk solusi harga karet jangka panjang antara lain replanting dengan diversifikasi dengan tanaman pangan dan tanaman perkebunan lain, mendorong pabrik ban dan industri hilir lain, dan penyerapan karet rakyat untuk kebutuhan dalam negeri, seperti aspal karet, kanal di lahan gambut, serta medical,” pungkasnya. (snc)
Sumber: Humas Kementan
Editor: Hermanto Sipayung

