SimadaNews.com-Lemang adalah penganan dari beras ketan yang dimasak dalam seruas bambu, setelah sebelumnya digulung dengan selembar daun pisang.
Gulungan daun bambu berisi beras ketan dicampur santan kelapa ini, kemudian dimasukkan ke dalam seruas bambu lalu dibakar sampai matang.
Lemang lebih nikmat disantap hangat-hangat. Cara mengonsumsi lemang berbeda-beda dari daerah ke daerah di Indonesia. Ada yang senang menikmatinya dengan cara manis ditambah selai, kinca, serikaya atau dengan cara asin rendang, telur, dan lauk-pauk lainnya. Atau ada juga yang memakannya dengan buah-buahan seperti durian.
Di perayaan Hari Besar seperti Idul Fitri, lemang merupakan makanan pavorit di beberapa daerah di Sumatera Utara. Rasanya, tidak lengkap perayaan Idul Fitri di rumah tanpa adanya suguhan lemang. Sehingga, kebanyakan masyarakat biasanya memasak lemang paling lama satu hari menjelang perayaan Idul Fitri.
Bagi yang tidak sempat memasak, maka akan berusaha mencari atau membeli lemang di usaha-usaha penjualan lemang yang tidak jauh dari tempat tinggal mereka.
Memang di sejumlah daerah sudah ada khusus warga yang berprofesi sebagai penjual lemang. Kota Tebing Tinggi salah satu contohnya yang menjadi pusat penjualanan lemang.
Bahkan, karena di Kota Tebing Tinggi ini mudah ditemukan lemang karena sepanjang Jalan Siantar-Medan, selalu ada saja menjual lemang setiap hari meskipun tidak pada hari-hari besar, kota ini pun dijuluki menjadi Kota Lemang.
Dari sekian banyak penjual Lemang di Kota Tebing Tinggi, salah satu Lemang yang paling diminati masyarakat yakni Lemang Upik. Usaha Lemang Upik ini, berada di Jalan Sudirman Gang Pancasila Kota Tebing Tinggi. Hemmmm…rasanya sangat enak.
Zainul, pengusaha Lemang Upik saat ditemui SimadaNews, mengaku usaha lemang itu sudah digeluti keluarganya sejak Tahun 1980. Dulunya merupakan usaha yang diritins ayahnya kemudian secara terus menerus diteruskan oleh mereka.
Didampingi anaknya Amiruddin, Zaiunul menerangkan bahan-bahan yang perlu disiapkan membuat lemang. Bahan pokoknya beras pulut/ketan, santan kelapa, garam yang dicampur dengan cara khusus kemudian dimasukkan ke dalam bambu yang didalamnya sudah ada balutan daun pisang kemudian dipanggang sampai memakan waktu hingga 3 jam.
Amirudin mengaku, setiap hari paling sedikit mereka memanggang 50 batang lemang untuk dijual di pinggir jalan Kota Tebing Tinggi. Namun menjelang perayaan Idul Fitri atau perayaan hari besar lainnya, mereka bisa memanggang 1.000 batang lemang, karena banyaknya pesanan dari masyarakat.
“Kalau harganya antara Rp20 ribu hingga Rp25 ribu per batang. Kalau sehari-hari omzet kita hanya Rp1 juta per hari, Bang. Tapi kalau seperi sekarang menjelang perayaan hari besar bisa Rp10 juta hingga Rp20 juta,” aku Amirudin.
Dia melanjutkan, selain menjual lemang di rumah, mereka juga menjual di Simpang Medan Kota Tebing Tinggi. Dan dari usaha itu, keluarga mereka bisa memenuhi kebutuhan hingga bisa menyekolahkan anak-anak mereka.
“Ini sudah jadi usaha turun temurun keluarga kami, Bang. Mulai d dari ayah kami dulu hingga sekarang turun temurun ke anak hingga cucu,” tutupnya. (snc)
Laporan: Saiun Basir
Editor: Hermanto Sipayung

